JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani memastikan adanya potensi human error pada kasus meninggalnya dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang. Terlebih, sebagai rumah sakit yang telah mengantongi akreditasi internasional, Siloam sedianya wajib menggunakan standar mutu pembedahan medical safety check list.
"Ada potensi itu, sekelas mereka mestinya sudah pakai standar itu, prosedurnya sign in, time out, sign out," jelas Irma usai diskusi mingguan Sindo Trijaya, di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.
Politisi partai Nasional Demokrat (NasDem) itu menambahkan, ketidakhatia-hatian dokter ahli anestesi terjadi pada saat menjalani prosedur sign in. Menurutnya, terdapat ketidakcocokan administrasi pada data identitas pasien sebelum upaya medis dilakukan.
"Padahal dokter harus memeriksa administrasi pasien, yakni memeriksa identitas sebelum akhirnya menangani dan memilih obat," imbuhnya.
Irma menduga, penanganan pasien yang berujung pada kematian itu tidak dilakukan oleh dokter. Sebab, jika dilakukan oleh dokter berpengalaman, tentu ia harus mengetahui bentuk obat anestesi yang akan diberikan terhadap pasien.
"Bentuknya panjang atau pendek, titik cairannya keruh, berwarna, bening atau berminyak, kalau dokter tiga tahun praktek, ia tentu paham lima mili dengan empat mili bedanya apa. Jadi saya khawatir,yang memasukkan obat itu perawat," sambungnya.
Sementara itu, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menegaskan bahwa pihak rumah sakit harus diberikan sangsi tegas.
Fungsinya agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang. "Harus itu, sekelas Siloam saja bisa begitu, harus ada efek jera," papar Tulus.
(Randy Wirayudha)