Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengais Rezeki sebagai Kusir Kuda Wisata

Prabowo , Jurnalis-Rabu, 25 Maret 2015 |06:22 WIB
Mengais Rezeki sebagai Kusir Kuda Wisata
Mengais rezeki sebagai kusir kuda wisata (Foto: Danang Prabowo/Okezone)
A
A
A

YOGYAKARTA - Seiring perkembangan teknologi, fungsi kereta kuda tidak lagi hanya sebagai akomodasi perjalanan darat. Namun, kini lebih banyak digunakan sebagai moda transportasi perjalanan wisata, contohnya yang ada di Yogyakarta.

Di sepanjang Jalan Malioboro dan seputaran Keraton Yogyakarta misalnya, banyak ditemukan beragam kereta kuda. Terdapat pula kereta kuda wisata mirip milik Keraton Yogyakarta yang tersimpan rapi di Museum Kereta Kuda.

Seperti milik Temu Waluyo (54), warga Rendeng Wetan, Timbolharjo, Sewon, Bantul. Dalam keseharian, bapak dari dua anak itu mangkal di sisi barat Alun-alun Utara, tak jauh dari Museum Kereta Kuda Keraton Yogyakarta.

Kereta kuda miliknya ditarik dua kuda poni, kuda keturunan Australia dengan ukuran tubuh yang cukup besar dan tinggi. Temu yang sejak 1983 menjadi kusir andong itu sudah hafal tentang kereta dan kudanya sendiri.

Dia menyatakan baru empat bulan menjadi kusir kereta kuda wisata. Sebab, kereta wisata ini baru diluncurkan pada akhir Desember 2014 di Ndalem Yudhanegaran oleh mantan Wali Kota Yogyakarta (dua periode di 2000-2010) Herry Zudianto dan adik Sri Sultan HB X yakni GBPH Yudhaningrat.

"Dulu, 1980 sampai 1990-an, masih banyak kereta kuda untuk angkutan, tapi sekarang hanya digunakan sebagai perjalanan wisata," kata Temu, ditemui Okezone saat memberi makan kedua kudanya di tengah keramaian Kota Yogyakarta, Selasa (24/3/2015).

Wisatawan yang naik kereta kuda miliknya hanya dibanderol Rp200 ribu dengan rute melingkar dengan start di Alun-alun Utara, menuju Titik Nol, kemudian ke kiri menuju pertigaan PKU Muhammadiyah, dan melintas lurus ke utara.

Sampai di ujung utara, belok ke kanan melintasi Jalan Pasar Kembang, kemudian mengitari air pancur di bawah Jembatan Kecek dan masuk ke Jalan Malioboro hingga kembali ke Alun-alun Utara.

"Kalau hanya melingari Alun-alun Utara ini cukup Rp100 ribu, tapi kalau melintasi rute yang panjang hingga Malioboro Rp200 ribu," katanya.

Temu mengungkapkan terdapat 30 kusir dalam satu komunitasnya yang bernama Bantul Kota. Mereka sama-sama mengais rezeki dengan menarik kuda wisata yang diperuntukkan bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

"Ya hari-hari biasa sepi, tidak ada yang naik kereta kuda. Biasanya kalau masa liburan ada pengunjung yang naik kereta kuda," jelasnya.

(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement