nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alkisah Atang Sendjaja, Pionir AURI nan Gemilang

Randy Wirayudha, Jurnalis · Kamis 09 April 2015 05:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 04 09 337 1131207 alkisah-atang-sendjaja-pionir-auri-nan-gemilang-c3OKYAHuiI.jpg Lanud Atang Sendjaja, Semplak yang mengabadikan nama mendiang Letkol Udara (anumerta) Atang Sendjaja)

OKEZONE JAKARTA – Semenjak era kemerdekaan, mungkin nama Letkol (anumerta) Atang Sendjaja merupakan salah satu pionir Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI-sekarang TNI AU) yang paling dibanggakan. Sayang, karier dan hidupnya justru berakhir tragis dalam suatu kecelakaan pada 29 Juli 1966.

Memperingati HUT TNI AU ke-69, Kamis (8/4/2015) hari ini, terasa ada yang kurang jika tak mengenang Atang Sendjaja. Sosok kelahiran Bandung 17 Maret 1928 ini memang bukan penerbang layaknya Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma atau Halim Perdanakusuma.

Tapi namanya tak kalah dibanggakan oleh setiap anggota TNI AU dan pantas rasanya disejajarkan dengan nama-nama besar lainnya seperti Soerjadarma, Halim, Adisutjipto, Husein Sastranegara, atau Nurtanio Pringgoadisuryo sekalipun dalam kedirgantaraan Indonesia.

Karier cemerlangnya dalam kemiliteran dimulai sejak masuk Sekolah Perwira Perbekalan (logistik) dan Sekolah Ilmu Siasat pada 1955. Setelah lulus dengan pangkat Letnan Udara Dua, Atang Sendjaja lebih dulu bertugas di Direktorat Pembekalan Personel (Ditkalpers) di Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta, sebelum dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Udara Satu.

12 Januari 1961, Atang Sendjaja diikutkan kursus “Advanced Operations & Maintenance” di Moskow, Uni Soviet (sekarang Rusia), sekaligus diikutkan dalam misi pembelian alutsista.

Sepulangnya ke tanah air, sosok Ayah lima anak itu ditugaskan lagi ke Departemen MBAU dan kemudian sebagai Komandan Departemen Materiil 091 Tanjung Priuk dengan pangkat Kapten Udara, sekaligus ikut merintis satu skadron helikopter.

Namun tragedi muncul pada 29 Juli 1966. Keluarga serta segenap jajaran AURI mendapati kabar duka meninggalnya Atang Sendjaja. Memang, sedianya masih berkeliaran spekulasi soal meninggalnya Atang Sendjaja, termasuk cerita Atang Sendjaja meinggal saat Operasi Dwikora.

Tapi pihak keluarga seperti yang pernah dipaparkan pihak AURI ketika itu, mempertegas bahwa Atang Sendjaja meninggal saat menjalankan tugas, di mana dia mengawal transportasi sejumlah helikopter angkut asal Rusia, Mi-6.

“Kakek (Atang Sendjaja) meninggal ketika membawa heli dari Tanjung Priuk ke Halim (sebelumnya Pangkalan Udara Cililitan). Saat itu kakek ada di dalam heli, buntut heli terkena kabel listrik sebelum masuk Halim,” papar Fajar Anugrah Putra, salah satu cucu Atang Sendjaja kepada Okezone.

Tak lama setelah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, nama Atang Sendjaja yang dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Letkol Udara, juga diabadikan pada sebuah pangkalan di Bogor, yang sebelumnya bernama PAU Semplak, menjadi PAU Atang Sendjaja.

Ada satu cerita lain yang dipaparkan Fajar yang didapat dari ibunya, salah satu anak Atang Sendjaja, juga tak lama setelah meninggal. Pasalnya pada masa itu, isu soal PKI masih sangat kental. Akibatnya, sejumlah buku-buku almarhum yang berasal dari Soviet harus dibakar.

“Waktu masih zamannya (pembasmian antek-antek) Gerakan 30 September 1965, banyak buku-buku kakek dibakar oleh adik kakek. Kan kakek banyak dapat buku waktu dari Soviet setelah dari sana. Kalau disimpan, sekeluarga bisa dicap PKI,” tandasnya.

Kini sosok sang kakek tinggal kenangan buat keluarga besarnya. Diakui Fajar, beberapa bintang jasa memang masih disimpan anggota keluarga lainnya, tapi tidak dengan sejumlah seragam dan foto-foto. Sejak istri Atang Sendjaja meninggal pada 1965, diakui Fajar tak sekalipun keluarga menerima undangan HUT TNI lagi.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini