JAKARTA – Hari itu Selasa (5/5/2015), keluarga dan pengikut setia kerajaan Yogyakarta berkumpul di ruang Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta. Mereka duduk bersila, berjejer di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Di samping kiri kanan Sultan, duduk putri Sultan, permaisuri, dan adik perempuan Sultan serta para kerabat kerajaan. Anehnya, di ruangan itu, tak satupun adik laki-laki Sultan tampak terlihat, meski sudah diberitahukan sebelumnya ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan.
Saat itu hening, dan di hadapan para Ngarso Dalem, Sultan mengeluarkan lima petisi atau sabda raja. Paling utama dalam sabda itu, adalah pengantian nama putri sulung Sultan menjadi putri mahkota.
Bak disambar petir, adik kandung dan adik tiri Sultan dari ibu berbeda seakan tidak terima dengan ultimatum yang dikeluarkan Sultan.
Ada sesuatu yang janggal, bahwa di adat Kesultanan Yogyakarta tidak pernah tercatat seorang perempuan menjadi raja, hanya laki-laki keturunan raja yang boleh menjadi pangeran Keraton di Kota Gudeg itu.
BPH Yudhaningrat dengan tegas menolak sabda raja. Adik Sri Sultan HB X itu mengaku siap menerima konsekuensi atas penolakan tersebut. Saat ditanya wartawan apa konsekuensinya? Dia menyebut sesuatu yang tidak rasional atas penerus darah biru Keraton Yogyakarta.
"Paling-paling disantet," kata Gusti Yudha, sapaan akrab GBPH Yudhaningrat, di Ndalem Yudhanegaran saat menerima aspirasi masyarakat Yogyakarta, Kamis (7/5/2015).
Tabrak Aturan
Sejarah silsilah keturunan penerus kerajaan Kesultanan Yogyakarta yang biasa dari kalangan laki-laki atau anak laki-laki pangeran, ingin dirubah Sultan HB X.