Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jeratan Darah Biru Keraton Yogyakarta

Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone) , Jurnalis-Minggu, 10 Mei 2015 |10:05 WIB
Jeratan Darah Biru Keraton Yogyakarta
Sri Sultan Hamengku Buwono X (foto: Okezone-SINDO)
A
A
A

HB II mulai turun takhta pada tahun 1810 hingga akhirnya tidak lagi berkuasa hingga tahun 1828.

HB III (1769–3 November 1814) kemudian mengantikan HB II yang ketika itu sudah menua. HB III adalah putra mahkota dari HB II.

Sesudah HB III mangkat, HB IV kemudian menjadi raja (3 April 1804–6 Desember 1822). HB IV diangkat sebagai raja pada usia 10 tahun, dalam memerintah kerajaan, HB IV didampingi wali yaitu Paku Alam I hingga tahun 1820.

Diakhir masa kejayaan HB IV, HB V kemudian menduduki pimpinan tertinggi di Keraton Yogyakarta (25 Januari 1820–1826 dan 1828–4 Juni 1855).

HB V bernama kecil Raden Mas Menol dinobatkan sebagai raja di Kesultanan Yogyakarta dalam usia tiga tahun. Adik dari HB V yakni HB VI kemudian menjadi raja Keraton Yogyakarta (19 Agustus 1821–20 Juli 1877).

Lantas, Raden Mas Murtejo, putra HB VI yang lahir pada 4 Februari 1839 kemudian naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877. Raden Mas Murtejo menjadi HB VII.

Penerus HB VII adalah Sri Sultan HB VIII (3 Maret 1880–22 Oktober 1939) yang seorang raja pemimpin di Kesultanan Yogyakarta di masa selanjutnya sampai akhirnya digantikan Sri Sultan HB IX (12 April 1912-1 Oktober 1988).

HB IX adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Usai HB IX meninggal di Amerika Serikat pada 2 Oktober 1988 pad usia 76 tahun. Anak laki-lakinya, yakni Sri Sultan HB X naik takhta sejak 2 April 1946 hingga saat ini.

Mengubah Sejarah

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement