“Jadi kan Demokrasi Pancasila yang diajalankan oleh dia, ada Golkar sebagai kekuatan politik, lalu ada dwi fungsi. Selalu dikatakan Demokrasi Pancasila yang paling penting adalah dwi fungsi ABRI. Sehingga tentara ada di mana-mana, ada yang jadi Gubernur lah, bahkan sampai ke bawah, itu semua yang orang enggak senang,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu Aktivis Mahasiswa 1998, Wahab Talaohu mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya pengerahan ABRI untuk menjaga kekuasaan Soeharto membuat ruang kritis tertutup rapat yang akhirnya membuat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat tersumbat.
“Soeharto saat itu menggunakan ABRI kita menjadi alat kekuasan pribadi. Jadi tidak ada ruang kritis. Anda berbeda pendapat dengan pemerintah, berarti anda akan dihilangkan, diculik, mendapat kekerasan. Itu membuat masyarakat menjadi takut dan tertekan. Saya kira ini bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Saat itu kondisi dan situasi sangat menakutkan dan mencekam sekali,” tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.