Kejadian itu menimbulkan reaksi keras dari Serbia yang menyatakan akan mengirimkan nota protes kepada Bosnia. Menteri Luar Negeri Serbia Ivica Dacic menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap Serbia.
“Dengan memutuskan untuk memberi penghormatan kepada para korban, PM Serbia telah bertindak seperti seorang negarawan. Kejadian ini adlaah salah satu efek negatif dari politisasi sebuah subjek yang telah membwa perpecahan dan kebencian bukannya sebuah rekonsiliasi,” kata Dacic dalam pernyataannya.
Pembantaian Srebenica adalah salah satu peristiwa dalam Perang Serbia-Bosnia yang terjadi pada 1992-1995. Dalam perang tersebut, Kristen Ortodoks Serbia berhadapan dengan penduduk Muslim Bosnia dan warga Katolik Kroasia.
Tercatat lebih dari 135 ribu orang tewas dalam konflik tersebut, 100 ribu di antaranya merupakan warga Muslim Bosnia. Pada 1995, PBB mengumumkan Srebrenica sebagai wilayah aman bagi para pengungsi sipil Muslim.
Namun, pasukan Serbia tetap menyerbu ke kota yang hanya dijaga oleh ratusan pasukan penjaga perdamaian Belanda itu. Setelah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) gagal memberikan bantuan ke Srebrenica, pasukan Serbia menangkap dan melakukan pembantaian terhadap lebih dari 8000 pengungsi Muslim pada 11-13 Juli 1995.
(Hendra Mujiraharja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.