nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penjagal 8.000 Warga Bosnia Dihukum Seumur Hidup, PM Lebanon Batal Resign

Djanti Virantika, Jurnalis · Kamis 23 November 2017 07:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 23 18 1818953 penjagal-8-000-warga-bosnia-dihukum-seumur-hidup-pm-lebanon-batal-resign-gMIB2eazxT.jpg Mantan Jenderal Serbia Ratko Mladic dan PM Lebanon Saad Hariri. (Foto: Reuters)

DUA peristiwa besar hari ini mewarnai perbincangan masyarakat di dunia. Salah satunya adalah hukuman penjara seumur hidup kepada Jenderal Serbia Ratko Mladic yang telah membunuh 8.000 warga Bonia.

Isu yang tak kalah hangatnya diperbincangkan sepanjang hari ini adalah batalnya pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri. Hal ini disampaikan dua pekan setelah Hariri memutuskan untuk resign saat tengah berkunjung ke Arab Saudi.

Oleh sebab itu, kedua isu tersebut akan kembali Okezone sajikan. Berikut ulasan yang telah terkumpul tentang dua peristiwa tersebut:

Penjagal 8.000 Warga Bosnia Dihukum Seumur Hidup

Mahkamah PBB untuk Kejahatan Perang di Bekas Yugoslavia (ICTY) akhirnya memberikan hukuman seumur hidup untuk mantan Jenderal Serbia, Ratko Mladic. Hukuman itu diberikan atas perannya dalam genosida dan pembantaian 8.000 warga Muslim di Srebrenica. Tak hanya itu, ia juga dituntut atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan atas insiden pengepungan Sarajevo yang menewaskan 11 ribu warga sipil.

Mladic menghadapi 11 tuntutan, dua untuk genosida, lima tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan empat lainnya untuk pelanggaran terhadap hukum dan kebiasaan perang. Hukuman seumur hidup akhirnya dijatuhkan oleh pengadilan di Den Haag atas tuntutan-tuntutan tersebut setelah proses hukum yang memakan waktu lebih dari empat tahun. Lamanya pemberian hukuman ini terjadi karena kesehatan Mladic yang memburuk.

BACA JUGA: Dinyatakan Bersalah, Penjagal 8.000 Muslim Bosnia Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup

Kekejaman yang dilakukan Mladic berawal pada 1992. Saat itu, Muslim Bosnia dan warga Kroasia memilih merdeka dalam referendum yang diboikot oleh warga Kroasia. Akibat referendum tersebut, dua perang terbuka terjadi, yakni antara Muslim Bosnia dan Kroasia serta Serbia dan Bosnia.

Pada 1995, tentara Mladic memasuki Kota Sarajevo dan menangkap remaja serta ribuan laki-laki Muslim yang berusia antara 12 hingga 77 tahun. Dalam kurun lima hari, di satu lapangan di luar kota, lebih dari 7.000 Muslim Bosnia dieksekusi menggunakan senapan mesin, kemudian dibuang menggunakan buldoser ke kuburan-kuburan massal.

BACA JUGA: Mengungkap Sosok Ratko Mladic, Si Jagal dalam Perang Bosnia

Perang berakhir sesudah pembantaian Srebenica. Ratusan ribu warga non-Serbia diusir dari rumah-rumah mereka guna mendirikan negara Kroasia dan Bosnia yang murni hanya dihuni oleh etnik Serbia.

PM Lebanon Batal Mengundurkan Diri

PM Lebanon Saad Hariri memberikan pernyataan yang mengejutkan. Ia menunda pengunduran dirinya setelah dua pekan menyampaikan hal tersebut saat berkunjung ke Arab Saudi.

Hariri mengatakan bahwa pembatalan ini merupakan permintaan Presiden Michel Aoun. Hal ini dilakukan untuk membahas lebih banyak alasannya mengambil langkah tersebut.

BACA JUGA: Usai Bicara dengan Presiden, PM Lebanon Saad Hariri Tunda Pengunduran Dirinya

Hariri sebelumnya mengumumkan pengunduran dirinya pada 4 November saat berada di Arab Saudi. Selain menyampaikan pengunduran dirinya, Hariri juga mengatakan bahwa nyawanya berada dalam bahaya. Pernyataan ini pun menimbulkan spekulasi yang menduga Hariri tengah disandera oleh Arab Saudi.

Dugaan itu diperkuat karena Hariri tak kunjung kembali ke Lebanon setelah mengundurkan diri. Meski akhirnya meninggalkan Arab Saudi, namunb Hariri tak langsung kembali ke Lebanon. Ia memutuskan untuk menerima undangan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, seperginya dari Riyadh.

BACA JUGA: Terima Undangan Presiden Prancis, PM Hariri Batal Pulang ke Lebanon

Setelah bertemu dan berdialog dengan Macron, Hariri akhirnya kembali ke Lebanon pada Selasa 21 November. Sesampainya di sana, ia langsung mengunjungi makam ayahnya, mantan PM Rafiq Hariri yang terbunuh dalam serangan bom pada 2005. Setelah itu, Hariri menyempatkan diri untuk hadir dalam parade militer memperingati Hari Kemerdekaan Lebanon hingga akhirnya bertemu dengan Presiden Michel Aoun pada Rabu 22 November. (DJI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini