Pikiran Kokom kalut. “Ada yang ngomong sabar-sabar, tapi enggak tau, saya sudah stress, memikirkan anak bagaimana.”
Adrian lalu memanggil kakak Kokom yang kemudian membawanya ke rumah sakit. Untungnya tak ada dampak serius dan Rahman bisa dilahirkan normal.
Mencari jalan keluar
“Enggak suka hidup begini, sedih. Ibu sudah gak mau," kata Kokom dengan nada frustrasi.
Tapi apa jalan keluar yang tersedia? Nyatanya, nyaris tidak ada.
Dengan tanggungan tiga anak , Adrian (8), Jia (28 bulan), dan Rahman yang baru lahir - Kokom hanya bisa mendapat Rp30.000 sampai Rp60.000 dari mengemis.
Satu kali, Kokom pernah masuk program bina usaha Dinas Sosial, diajarkan membuat kue selama empat bulan. Setelah keluar, dia dibekali peralatan membuat kue, dengan harapan bisa dipakai untuk modal usaha.
Namun, uang adalah barang mewah. Peralatan membuat kue itu digadai untuk melunasi kontrakan. Satu dua bulan setelah itu, ketika tak lagi punya uang, Kokom kembali hidup di pinggir jalan.
"Ada yang pernah menawarkan kerjaan, jadi TKW. Ibu enggak mau," katanya. Dia mendengar cerita-cerita buruk tentang tetangga-tetangganya yang pergi ke luar negeri, tetapi pulang tidak digaji.
Kehilangan cucu yang “disewakan”
Kokom masih rajin mengunjungi beberapa anaknya yang sudah menikah, Sumi salah satunya yang memiliki bayi 26 bulan bernama Agung.