Sebagaimana dinukil dari buku ‘Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Praharat Politik: 1961-1965’, Sekjen PBB saat itu, U Thant, kembali menyerukan pada Indonesia dan Belanda soal pencarian solusi damai soal sengketa Irian Barat.
“Saya mencemaskan soal kabar-kabar pers, soal insiden pertempuran kapal-kapal Angkatan Laut Belanda dan Indonesia di sekitar perairan Irian Barat,” ungkap U Thant.
Sementara, sejumlah media internasional juga tak kalah gencar memberitakan insiden tersebut. Radio Australia pada sehari pasca-insiden, memberitakan soal Kapal Perusak Belanda, “Evertsen” yang menawan 50 awak kapal KRI Matjan Tutul yang sempat berusaha menyelamatkan diri.
Radio dari “Negeri Kanguru” itu juga menyoroti soal siapa yang pertama melepaskan tembakan. Adapun media asing lainnya, AFP, menuliskan: “Kapal-kapal perang Belanda mulai menembaki formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda yang beregerak ke arah pantai Selatan Irian Barat.