Share

Alasan Kejagung Hentikan Kasus Novel Dinilai Tak Masuk Akal

Demon Fajri, Okezone · Senin 22 Februari 2016 16:42 WIB
https: img.okezone.com content 2016 02 22 340 1318414 alasan-kejagung-hentikan-kasus-novel-dinilai-tak-masuk-akal-mpbBofROcC.jpg foto: dok. Okezone

BENGKULU - Kejaksaan Agung menghentikan penuntutan kasus penganiayaan yang menyeret mantan penyidik KPK, Novel Baswedan. Alasannya karena tidak memiliki bukti yang kuat untuk menuntut Novel.

Keputusan Kejagung menghentikan kasus Novel dikritik oleh Yulisman, pengacara korban penembakan Novel. Menurutnya, langkah Kejagung atas kasus Novel membodohi rakyat.

"Kejaksaan jangan membodohi rakyat. Ini sama saja dengan menjilat ludah sendiri," kata Yulisman kepada wartawan, Senin (22/02/2016).

Bila kejaksaan kekurangan bukti, sambung Yulisman, seharusnya mengembalikan berkas pada polisi untuk dilengkapi (P19). Yulisman menduga ada pihak di balik penghentikan kasus tersebut.

"Ini harus dijelaskan, siapa yang mengintervensi kejagung. Kasih tahu saja kepada publik, jangan ditutupi," kata dia.

Menurutnya, kasus Novel yang dianggap kadaluarsa juga tidak masuk akal. Terlebih, berkas kasus itu sempat dilimpahkan ke PN Bengkulu. Bahkan, pihak pengadilan telah menetapkan jadwal sidang dan telah menujukkan hakim

"Berkas dakwaan sudah dikirimkan. Pengadilan bilang, kasus ini tidak kadaluarsa karena penuntutan sudah dimulai. Negara ini tidak benar," kata Yulisman.

Berkas kasus Novel Baswedan sebenarnya pernah dilimpahkan ke PN Bengkulu oleh Kejari pada akhir Januari 2016. PN Bengkulu lalu menjadwalkan sidang perdana pada 16 Februari.

Namun pada 2 Februari, pihak kejaksaan mengajukan penarikan kembali berkas kasus Novel dengan alasan untuk disempurnakan. Dan tiga hari setelahnya, PN Bengkulu menyerahkan berkas yang diminta oleh Kejari Bengkulu.

Namun pihak Kejari Kota Bengkulu tidak kunjung menyerahkan kembali berkas hingga akhirnya Kejaksaan Agung memutuskan menghentikan kasus penganiayaan yang melibatkan Novel Baswedan.

Kasus Penganiayaan yang menjerat Novel sendiri terjadi pada 2004 lalu, saat Novel masih menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu. Penganiayaan berupa penembakan terhadap tersangka pencurian sarang burung walet.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini