Share

Sepenggal Kisah Veteran Pengibar Bendera AS di Iwo Jima

Silviana Dharma, Okezone · Rabu 24 Februari 2016 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2016 02 24 18 1319751 sepenggal-kisah-veteran-pengibar-bendera-as-di-iwo-jima-opAH8HgN4r.jpg Barret menunjukkan peta lokasi Iwo Jima di rumahnya. (Foto: The Register Guard)

SPRINGFIELD – Lebih dari tujuh dekade sejak bendera AS pertama kali dikibarkan di puncak Gunung Surabachi, Pulau Iwo Jima, Jepang. Robert Carter Barret (94), masih mengenang masa-masa perjuangannya di pulau kecil berpasir hitam akibat abu volkanik dan penuh belerang itu.

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana bendera itu dipanggul sampai ke puncak dan teman saya sesama marinir menancapkannya di ketinggian 554 kaki empat hari setelah pertempuran lima minggu lamanya dengan tentara Jepang pada 19 Februari 1945,” ujar Barret mengenang momen kemenangan itu, disitat dari The Register Guard, Rabu (24/2/2016).

Veteran yang akrab dipanggil Robin ini mengungkap, foto hitam putih lima marinir AS dan satu Angkatan Laut tempur perawat tentara bersusah payah menancapkan bendera AS ke tanah, hasil jepretan Joe Rosenthal, yang meraih Piagam Pulitzer, sebenarnya diambil saat pengibaran bendera kedua.

“Pemandangan paling indah dan momen terbaik terjadi saat bendera pertama yang ukurannya lebih kecil dikibarkan di atas sana pagi itu. Saya senang bisa berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Sekretaris AL James Forrestal mengambil bendera pertama sebagai souvenir dan bendera kedua datang beberapa hari kemudian, momen itulah yang diabadikan Rosenthal,” tuturnya.

Operasi Detasemen yang dirancang Paman Sam di Iwo Jima merupakan salah satu pertempuran paling berdarah dan tersengit dalam sejarah Perang Pasifik Perang Dunia II. Lebih dari 22.000 pasukan Jepang meninggal dunia, 200 di antaranya ditangkap hidup-hidup.

Pihak AS juga menderita kerugian yang tak kalah besasrnya, dengan 6.800 pasukan meregang nyawa dan sedikitnya 18.000 tentara AS lainnya terluka dalam invasi pertama negeri adidaya ke daerah kekuasaan negeri matahari tersebut.

“Kami mencapai pantai, berjalan turun ke bawah, dan yang bisa kami lihat hanya asap dan bentangan pasir vulkanik hitam di sepanjang daratan. Rasanya seperti memasuki The Fury of Pure Hell (tempat yang benar-benar buruk dan seperti neraka). Tidak ada satupun tempat untuk bersembunyi,” tulis Barret empat tahun lalu mengenai pengalaman pertamanya mendarat di Iwo Jima.

Barret ingat dengan jelas bagaimana ia menghabiskan waktu kurang lebih sebulan untuk berlayar dari Hawaii ke Asia. Kala itu ia bersiap menuju Iwo Jima sebagai bagian dari resimen ke-27, divisi 5 pasukan AL AS.

“Tidak ada pantai di sana, semuanya hitam akibat abu volkanik. Kontur daratannya sangat menakutkan. Pulau itu gundul seperti piring koleksi gereja, yang dikeluarkan tiap Sabtu malam. Tidak ada tempat untuk pergi maupun bersembunyi. Membangun lubang perlindungan juga tidak mudah, karena segera setelah Anda menggalinya, tanah itu akan jatuh menimpa Anda,” sambungnya.

Sementara posisi tentara Jepang di teritorinya itu sudah sangat strategis. Mereka memiliki bunker-bunker yang saling terhubung, artileri tersembunyi dan terowongan bawah tanah sepanjang 18 kilometer.

Pada 3 Maret 1945, pasukan AS menguasai tiga lapangan udara di pulau itu. Jepang semakin terdesak dan pada 26 Maret, pasukan pembela Jepang terakhir di Iwo Jima dipukul mundur.

Setelah pertempuran di Iwo Jima berakhir, ia bergabung dalam persekutuan pendudukan Jepang, yang berbasis di Nagasaki sebelum AS menjatuhkan dua bom atom yang memaksa Jepang menyerah dalam Perang Dunia II.

Perang usai, dan pria kelahiran Pasadena, California itupun kembali ke kampung halamannya di Southern California. Ia menikah dengan Marvel 64 tahun yang lalu dan kini telah dikarunai empat orang anak, tujuh cucu dan 13 cicit.

Mereka pindah ke Bonanza pada 1980-an dan sekarang menetap di Springfield sejak 2002 agar lebih dekat dengan beberapa cucu mereka.

Hingga di usia senjanya, kakek pejuang 1945 itu mengaku benar-benar beruntung bisa menjadi saksi hidup atas perang yang memakan banyak korban jiwa tersebut.

“Terkadang, saya melihat ke belakang dan berpikir betapa beruntungnya saya masih hidup hingga saat ini. Saya mungkin adalah salah satu orang yang paling beruntung di dunia. Saya juga menjalani hidup yang menyenangkan,” kata dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini