Terlihat berbagai bangunan dengan cat warna terang, seperti warna hijau dan biru muda. Setiap pintu rumah tersebut dibuka dan dituliskan 'Cafe'.
Pada bagian depan terlihat pemandangan kursi plastik yang telah diduduki oleh para wanita pekerja seks dengan berpakaian seksi. Ada yang fokus tetap menggoda pria yang lewat baik yang naik motor, mobil, sampai pejalan kaki. Namun, ada pula yang sibuk makan seraya ngobrol, dan ada yang sekedar terlihat lusuh main ponsel, seraya menghisap rokok.
Dengan lebar jalan di sana sekitar lima meter, tampak banyak badan jalan yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima maupun pedagang gerobak.
Tak jauh dari sana, ada juga pos keamanan bertuliskan "Pos RW 03 Kelurahan Dadap , Kecamatan Kosambi" yang diduduki oleh beberapa pria berseragam hansip lengkap dengan atributnya seperti handy talky. Bahkan ada juga organisasi massa kepemudaan yang konon katanya baru hadir di lokalisasi.
"Hei abang, sini atuh aa, sini kokoh," goda salah satu perempuan.
Tarif sekali kencan di lokalisasi prostitusi Rp350 ribu. Hal itu diketahui dari salah seorang wanita pekerja seks yang mengaku bernama Tifanny, bukan nama sebenarnya, yang bekerja di salah satu warung remang-remang yang ada di sana.
“Kalau di sini sekali ngamar tiga setengah (Rp350 ribu), kalau cuma minta ditemenin pekgoh (Rp150 ribu),” ujar Tifanny seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.