JAKARTA - Pertama kalinya dalam sejarah, Presiden Indonesia Joko Widodo bertemu muka dengan Perdana Menteri Pemerintahan Nasional Gabungan Libya Faiz Al Serraj, yang mewakili Libya usai digulingkannya presiden diktator Muammar Abu Minyar al-Qaddafi pada Arab Spring 2011.
Pertama-tama, RI 1 mengucapkan selamat kepada Y.M. Faiz Al Serraj atas keterpilihannya sebagai PM Pemerintahan Nasional Gabungan Libya yang baru. Terkait situasi politik di Libya, Jokowi meyakinkan akan aktif membantu Faiz mengarungi masa rekonsiliasi maupun transisi negaranya menuju demokrasi.
"Tadi saya ketemu sama PM Baru Libya, ya pertama saya ucapkan selamat atas terbentuknya Pemerintah Nasional Gabungan terbaru yang ada di sana. Kami juga buat beberapa kesepakatan bilateral, karena Libya juga mau membuka diri untuk kerja sama. Terutama, mereka mau belajar demokrasi dari pengalaman Indonesia," ungkap Jokowi kepada awak media ketika ditemui di sela kesibukannya menerima pertemuan bilateral dengan sejumlah peserta Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) 2016 di JCC Senayan, Jakarta pada Senin (7/3/2016).
Perihal pengalaman Demokrasi, Jokowi berujar sudah berbagi pengetahuan soal pemilu Presiden hingga walikota dan gubernur maupun daerah di Indonesia.
Dalam siaran pers yang diterima Okezone, Senin (7/3/2016), kedua negara juga mengangkat isu bilateral mendorong kerja sama capacity building di Libya, terutama dalam bidang demokrasi, mendorong keterlibatan sektor swasta agar aktif dalam perdagangan antar kedua negara, serta mendorong eksplorasi dan investasi pengusaha Indonesia di sektor energi dan migas, juga ekspor produk komoditas dari Indonesia ke Libya.