“Tidak punya siapa-siapa, anak saya juga tidak pernah mengurusi. Dia saya rawat sejak kecil,” tuturnya seraya memeragakan tangannya ke bawah sebagai isyarat jika dirinya pernah merawat anak tirinya sejak kecil.
Sebelum menempati rumah bantuan program PNPM Mandiri pada 2011, Mbah Gini sempat hidup berpindah-pindah. Namun atas kemurahan hati Mbok War yang rumahnya berada di depannya, Mbah Gini diberi sepetak tanah plus gubuk untuk ditinggalinya. Rumah itu kemudian direhab dengan dana PNPM hingga lebih layak tinggal.
Meski sudah permanen, kondisi rumahnya kumuh. Foto-foto kondisi rumah dan kamar Mbok Gini belakangan beredar di media sosial, mengundang keprihatinan banyak orang.
“Orangnya memang ngusuh atau selalu membawa resek atau sampah ke rumahnya, bahkan menumpuk di tempat tidurnya,” ujar Subakri, seorang perangkat desa setempat yang kini menjadi penanggung jawab segala bantuan yang diterima Mbok Gini.
Waktu masih ada Mbok War, kata Subakri, Mbok Gini sangat menurut. Diminta mandi, bersih-bersih, ia manut. Mbok War-lah yang dulu merawatnya. Namun setelah Mbok War meninggal dunia lima tahun silam, Mbok Gini pun telantar. “Namun, tidak sampai kelaparan, semua tetangga di sekitar sini pasti memberinya makan,” ujar Subakri.