nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemendes PDTT Kembangkan Pertanian Organik

Kamis 14 April 2016 15:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 04 14 542 1362842 kemendes-pdtt-kembangkan-pertanian-organik-6iRFWgksbl.jpg Menteri Desa PDT dan Transmigrasi Marwan Jafar (Foto: Dok. Okezone)

KEMENTERIAN Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kini mengembangkan konsep pertanian modern yang ramah lingkungan yaitu berbasis organik.

Pertanian modern kini tidak lagi dipandang sebagai sistem yang hanya bisa menghasilkan produk sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan berbagai jenis bahan kimia yang pada akhirnya ekosistem di sekitar punah serta kegiatan pertanian mati.

Kesadaran akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan sudah menjadi kesepakatan internasional. Saat ini pertanian modern merujuk kepada pertanian organik yang mengandalkan bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis yang memproduksi bahan pangan yang aman serta tidak merusak lingkungan.

Pertanian organik merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan alam lingkungan. Dengan mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan dan merujuk pada alam terbukti memberikan hasil memuaskan.

Selain menghasilkan produk yang sehat dan menyehatkan, pertanian organik juga menguntungkan petani karena nilai jual produknya lebih tinggi dibanding produk pertanian anorganik.

Tidak berlebihan, banyak pihak mulai melirik pertanian organik sebagai masa depan baru, baik bagi keberlanjutan lingkungan maupun potensi ekonomi pertanian masa depan. Terkait lahan bukanlah persoalan untuk memulai pertanian organik di kawasan transmigrasi.

Sebab, dari tahun ke tahun pemerintah menyiapkan lahan baru untuk para transmigran. Tahun lalu, pemerintah tidak kurang menyiapkan seluas 1,5 juta hektare lahan hutan konversi yang telah mengalami kerusakan untuk para transmigran.

Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar, penggunaan hutan tersebut tidak akan merusak fungsi hutan karena para transmigran tidak akan tinggal di dalam hutan. Mereka akan ditempatkan di Area Penggunaan Lain (APL) dan akan difasilitasi dengan hak pakai hutan selama 70 tahun.

“Setidaknya terdapat 9,5 juta hektare hutan konversi yang mengalami kerusakan di seluruh Indonesia,” katanya.

Diharapkan pengembangan program ini dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidup di sekitar hutan. Tak hanya memanfaatkan kawasan hutan konversi, Kemendes PDTT juga akan terus menambah Kawasan Terpadu Mandiri (KTM) di seluruh Indonesia hingga menjadi 79 KTM dari 44 KTM yang saat ini sudah ada. Penambahan kawasan mandiri ini akan terealisasi hingga 2015.

Tahun lalu, ketika sebuah daerah mengajukan pembangunan KTM dan disetujui, maka otomatis KTM akan dibangun. Jika merujuk hingga 2015 paling tidak ada sejumlah 79 embrio KTM. Hingga kini ada ada 89 kota baru di seluruh Indonesia yang berasal dari pembangunan KTM di lokasi transmigrasi.

"Konsep pengembangan daerah model KTM ini diharapkan menjadi pusat-pusat kota baru di masa datang. Dulu dibutuhkan 30 tahun untuk membangun sebuah kota, namun upaya sistematis untuk membuat kota baru dibutuhkan 10 hingga 15 tahun," ujarnya.

Proyek pertanian ogranik siap dibangun dan dikembangkan terutama di kawasan KTM. Potensi pertanian organik memiliki pangsa pasar yang menjanjikan, terlebih saat ini masyarakat internasional mengadopsi konsep "Kembali ke Alam" di mana permintaan produk pertanian organik di seluruh dunia tumbuh pesat hingga sekira 20 persen per tahun.

Harga produk pangan organik juga jauh lebih tinggi daripada pertanian konvensional, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan para transmigran, sekaligus menarik calon transmigran baru dari kelompok pengangguran berpendidikan karena pertanian organik membutuhkan keterampilan khusus.

Kemendes PDTT bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Masyarakat Organik Indonesia (Maporina). Langkah awal, Kemendes PDTT melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi para calon petani organik.

Langkah kedua, Maporina melatih sebanyak 400 pengangguran untuk memperkenalkan pertanian organik dan selanjutnya para peserta akan dikirim ke lokasi transmigrasi yang akan dikembangkan menjadi kawasan pertanian organik.

Karena itu, pemerintah optimistis program itu dapat menjadi salah satu program unggulan untuk mengatasi jumlah pengangguran dan kemiskinan yang naik menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu mencapai 8,9 juta pengangguran dan 35 juta warga miskin.

Potensi dan sumber daya alam Indonesia yang melimpah di mana dan total 75,5 juta hektare lahan yang digunakan untuk usaha pertanian, baru 25,7 juta hektare yang diolah untuk sawah dan perkebunan. Uji tanam pertanian ogranik sudah dilakukan di Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sudah panen raya pada Maret lalu. Padi variatas gogo dikawinkan dengan metik wangi.

Hasilnya, pertanian organik jauh lebih banyak dibandingkan nonorganik, serta lebih pulen dan beraroma wangi. Hasil penenya pun berbeda, jika padi nonorganik per hektare bisa menghasilkan lima ton, sedangkan padi organik bisa mencapai enam hingga tujuh ton per hektare dan harganya juga tinggi yaitu Rp14.000 per kilogram.

Pertama kali ditemukan oleh Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, Totok Agung. Padi jenis ini bisa tahan pada tanah dalam kondisi kering maupun basah dan pertanian dengan jenis padi ini tidak memerlukan benih padi sebanyak jenis padi lainnya.

Dalam satu hektare lahan hanya diperlukan 10 kilogram benih padi, dibandingkan dua cara lain yang diujicobakan yakni cara tebar acak yang memerlukan 60 kilogram benih padi dan cara tabela yang membutuhkan 40 kilogram benih padi dalam satu hektare.

(uky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini