“Kadang sapi yang tidak bunting tapi sudah ditangani malah dijual. Padahal sapi betina itu murah kalau dijual,” ujar Dwi.
Kendati begitu, keterampilan menggunakan USG untuk mendiagnosis gangguan reproduksi pada sapi mengantarkan Dwi menjadi dokter hewan berprestasi tingkat DIY 2015. Dia kemudian mewakili DIY ke tingkat nasional dan menjalani penilaian oleh tim juri di Poskeswan Galur, Senin lalu.
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengungkapkan, dedikasi Dwi sebagai dokter hewan tidak diragukan lagi. Dwi rajin melakukan riset terkait penanganan gangguan kesehatan hewan ternak.
Dwi juga selalu mengasah kemampuannya, termasuk dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi. Dia bahkan melayani konsultasi via whatsaap maupun sms.
Menurut Hasto, kepedulian dan layanan yang diberikan Dwi mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kalangan peternak. “Jika ternak sering bunting dan beranak, tentu sangat membantu peningkatan pendapatan masyarakat,” ucap Hasto.
(Amril Amarullah (Okezone))