Usaha sampingan ini sudah dijalaninya selama delapan tahun dan sekarang memiliki sebuah gudang atau bangunan rumah yang digunakan untuk menumpuk barang-barang bekas yang dikumpulkan maupun hasil setoran pemulung. Di gudang yang lembab itulah dia dan anaknya setiap hari bergelut dengan sampah. Tekadnya untuk mendidik anak-anaknya meraih cita-cita yang membuat dirinya tidak ingin mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya.
Bahkan, dengan jalan mendidik anaknya bekerja keras seperti ini bisa menjadikan anaknya merasakan susahnya orang bekerja dan mencari nafkah. Namun, dengan cara yang jujur dan halal. “Sampah ini bisa menjadi uang, eman ini rezeki kenapa dibuang-buang,” ujarnya.
Selain menjadikan sebagai usaha sampingan, pekerjaan ini juga disiapkan untuk masa pensiun agar ada kesibukan dan menambah penghasilan. Anaknya yang kedua, Dimas juga termasuk penurut dan selalu membantunya memilah sampah di gudangnya.
“Cita-citanya ingin menjadi polisi dan sekarang sudah daftar, mohon doanya agar bisa lulus dan menjadi polisi yang jujur,” kata Seladi yang mengaku tidak punya dekengan atau orang dekat baik pejabat maupun polisi.
Pekerjaan memulung sampah ini bukan tanpa cibiran rekan kerjanya maupun orang sekitar. Ia mempunyai prinsip membantu semua orang dengan ikhlas tanpa pamrih dan sabar menghadapi kehidupan ini. Kalau dulu rekan-rekannya cuek dan acuh terhadap kebiasaannya mengumpulkan sampah, kini banyak orang di lingkungan kerjanya memberikan sampah dan semua botol bekas dan sampah diberikan kepadanya.