Jelas, meninggalnya Jo Cox juga jadi kehilangan besar bagi sejumlah lembaga pembela HAM, macam Amnesti Internasional, sebagaimana yang diungkapkan Direktur Amnesty Internasional (cabang) Inggris, Kate Allen.
“Kami sangat sedih mendengar kabar tragis ini. Jo seorang juru kampanye soal keadilan dan HAM yang tak kenal lelah. Kampanyenya tentang pengungsi, krisis Suriah dan hak-hak wanita membuatnya jadi anggota parlemen yang paling berdedikasi. Kami bangga pernah bekerja dengannya,” ungkap Allen.
Jo Cox meninggal setelah ditikam dan ditembak Tommy Mair, seorang pelaku yang terduga aktivis anti-Islam dan partai sayap kanan, Britain First berusia 52 tahun di dekat sebuah perpustakaan di Birstall, West Yorkshire, Kamis, 16 Juni sekira pukul 12.53 waktu setempat.
Jo Cox sempat dilarikan dengan helikopter medis ke RSU Leeds, tapi nyawanya tak tertolong dan sekira pukul 1.48 siang, tim dokter yang menanganinya menyatakan Jo Cox telah tiada. (Baca: Pelaku Penembakan Anggota Parlemen Inggris Diduga Aktivis Anti-Islam).
Sebelum meninggal, Jo Cox tengah membantu PM Cameron mengampanyekan Inggris untuk tetap bertahan sebagai anggota Uni Eropa, jelang Referendum “Brexit” pada 23 Juni 2016 mendatang.
Pembunuhan Jo Cox ini merupakan pembunuhan terhadap anggota Parlemen Inggris yang pertama, sejak insiden serupa pada 1990 lalu. Kala itu, seorang anggota Parlemen Inggris, Ian Gow tewas dalam sebuah ledakan bom mobil yang diketahui dilakukan simpatisan IRA atau Milisi Republik Irlandia.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.