Mengenal Sosok Perdana Menteri Inggris Theresa May

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Kamis 14 Juli 2016 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 14 18 1437486 mengenal-sosok-perdana-menteri-inggris-theresa-may-BgKppGsfHP.jpg Perdana Menteri Inggris Theresa May bersama sang suami Philip (Foto: Peter Nicholls/Reuters)

INGGRIS resmi miliki seorang Perdana Menteri (PM) baru untuk menggantikan David Cameron yang mengundurkan diri. Adalah Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May yang menggantikan posisi pria berusia 49 tahun itu sebagai Ketua Partai Konservatif sekaligus PM Inggris.

(Theresa May saat berkunjung ke Istana Buckingham. Foto: Dominic Lipinski/Reuters)

Perempuan berusia 59 tahun itu telah lama mengutarakan niatnya menjadi PM Inggris perempuan pertama. Namun, sebagaimana diketahui, Margaret Thatcher adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai PM Inggris pada 1979-1990.

Ambisi May untuk menjadi PM Inggris sebelumnya harus tertunda paling tidak sampai 2018. Namun, nasibnya berubah ketika David Cameron mengadakan referendum Uni Eropa dengan hasil 52 persen rakyat Inggris menghendaki keluar dari blok berisi 28 negara tersebut pada Kamis 23 Juni 2016.

Berikut sosok Theresa May yang dirangkum dari BBC, Kamis (14/7/2016):

Theresa Brasier lahir pada 1 Oktober 1956 di Eastbourne, Sussex, Inggris dari pasangan Hubert Brasier dan Zaidee Brasier. Ayahnya, Hubert, adalah seorang pendeta di Church of England. Theresa menamatkan pendidikannya di Universitas Oxford dengan meraih gelar sarjana geografi.

(Theresa Brasier bersama kedua orangtuanya. Foto: BBC)

Ia bertemu dengan suaminya Philip May di tahun ketiganya menempuh pendidikan tinggi pada 1976. Jalinan kasih keduanya berlanjut hingga jenjang pernikahan pada 6 September 1980. Sayangnya, pernikahan keduanya hingga kini belum dikaruniai buah hati.

(Pernikahan Philip May dengan Theresa Brasier. Foto: BBC)

Di masa kuliahnya itulah, ambisi menjadi PM perempuan pertama mengemuka. Ambisi itu terekam jelas dalam ingatan temannya Pat Frankland dalam sebuah wawancara pada 2011.

“Saya tidak bisa mengingat satu hari saja tanpa ambisi politik dari dirinya. Saya ingat, suatu waktu, dia sangat ingin menjadi PM perempuan pertama. Dia sangat jengkel ketika mengetahui Margaret Thatcher adalah yang pertama,” kenang Frankland.

Setelah memperoleh gelar sarjana geografi di Kolese Saint Hugh, May bekerja di sebuah bank. Namun, sangat jelas dirinya memiliki visi untuk berkarir di bidang politik. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Merton, London pada 1986 hingga 1994.

Pada 1992, Theresa May mengalami kekalahan dalam pemilihan umum (pemilu) untuk mendapatkan kursi sebagai anggota parlemen sebagai wakil dari North West Durham. Dua tahun kemudian, dia juga mengalami kekalahan dalam pemilihan di Barking. Baru pada 1997, Theresa May sukses mendapatkan kursi sebagai anggota parlemen mewakili Maidenhead lewat Partai Konservatif.

Sejak itu, karir politiknya menanjak. Pada 1999, ia ditunjuk menjadi menteri bayangan untuk urusan pendidikan ketika Partai Konservatif dipimpin oleh William Hagu. Pada 2002 ia menjadi pengurus inti partai di bawah kepemimpinan Iain Duncan Smith.

(Theresa May bersama anggota Partai Konservatif. Foto: Press Association)

Ketika karier David Cameron dan George Osborne meroket di Partai Konservatif, May sepertinya tak mendapat peran penting. Baru pada 2009 ia diberi pos menteri bayangan untuk bidang ketenagakerjaan dan pensiunan. Saat Konservatif berkuasa dengan menggandeng Liberal Demokrat sebagai mitra koalisi, May diminta menjadi Menteri Dalam Negeri pada 2010.

Kursi Menteri Dalam Negeri dikenal sebagai kuburan bagi karir beberapa politikus, namun di tangan May jabatan ini meneguhkan dirinya sebagai politikus ulung.

Theresa May mencatat sejumlah prestasi, yakni angka kejahatan menurun, rencana teror digagalkan pada 2013, dan ia mendeportasi ulama radikal Abu Qatada. Ia juga membenahi kepolisian dan dikenal dengan pernyataannya bahwa masalah korupsi tidak hanya dilakukan oleh segelintir perwira saja.

Analis politik di Inggris memperkirakan peluang May sebagai perdana mungkin baru muncul setelah 2018. Namun referendum soal Uni Eropa pada 23 Juni rupanya mengubah 'nasib politik' May. Referendum telah membelah Inggris dan juga Partai Konservatif. May dianggap sebagai calon kuat untuk mengakhiri perpecahan ini.

Ia dikenal sebagai pribadi yang tangguh dan tak segan untuk menyampaikan kenyataan sulit di dalam tubuh Partai Konservatif. Inilah yang membuatnya bertahan di 'lingkaran atas' partai dalam 17 tahun terakhir.

Banyak yang mengatakan tantangan yang dihadapi May sangat besar: mulai dari menyatukan kembali Inggris yang terbelah akibat referendum dan memimpin perundingan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).

May adalah pendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa, namun May mengatakan Brexit adalah Brexit. "Kita tak mungkin mengubah keputusan ini. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana mendapatkan manfaat maksimal dengan berada di luar Uni Eropa," kata May.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini