“Pintu yang dilalui yakni melewati Lawang Pitu yaitu Lawang Pasujudan, Ratna Komala, Djinem, Rararoga, Kaca, Bacem dan Teratai, menuju Sapta Rengga atau ruangan dalam Makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang berada di puncak Bukit Gunung Sembung,” terang Arimbi.
Dirinya menambahkan, pada prosesi akhir, Sultan Kanoman XII Kanjeng Gusti Sultan Raja Moch Emirudin dengan keluarga secara simbolis melakukan tradisi surak (membagikan uang) kepada masyarakat yang ada di sekitar kompleks pemakaman.
“Beberapa saat setelah itu, rangkaian prosesi ritual ditutup oleh Sultan Kanoman dan segenap keluarga serta kerabat kesultanan menuju Lawang Pasujudan untuk pamit pulang kembali ke Keraton Kanoman,” paparnya.
Istri kuwu melayani
Sementara itu, sejarawan Cirebon, Raffan S Hasyim atau akrab disapa Opan, menyampaikan, tradisi berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati tersebut bukan hanya dilakukan oleh keluarga keraton. Melainkan warga yang memiliki keturunan atau leluhur yang dimakamkan di kompleks pemakaman Gunung Jati.
Dia menuturkan, tradisi Grebeg Syawal dimulai pada tahun 1570, setelah Fatahilah (menantu Sunan Gunung Jati) wafat. Dia menjelaskan, tradisi Grebeg Syawal di Cirebon bukan hanya berziarah saja, melainkan menjadi ajang silaturahmi antara keluarga keraton dengan warga.