nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Solusi Atasi Penjara Penuh Bukan dengan Berikan "Obral Remisi"

Regina Fiardini, Jurnalis · Sabtu 20 Agustus 2016 12:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 08 20 337 1468707 solusi-atasi-penjara-penuh-bukan-dengan-berikan-obral-remisi-5rOPIOWcaY.jpg Diskusi soal remisi untuk koruptor (Foto: Regina/Okezone)

JAKARTA - Salah satu alasan mengapa koruptor bisa mendapat remisi di hari raya keagamaan atau hari kemerdekaan ialah karena kurangnya ruang tahanan di penjara Indonesia.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti menilai, selain menambah jumlah penjara, solusi lain yang bisa dilakukan dalam waktu dekat ialah dengan mengurangi tahanan dengan kasus yang sangat rendah.

"Solusinya tidak hanya bangunan, misalnya bisa mengurangi jumlah orang-orang yang cuma curi sendal atau curi kaos, ngapain dihukum?" kata Bivitri dalam diskusi bertajuk 'Permisi Koruptor dapat Remisi' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/8/2016).

Tak hanya itu, berdasarkan studi yang pernah ia baca, dikatakan bahwa sistem pendataan di penjara Indonesia sangatlah buruk. Dimana di dalamnya masih ada narapidana yang seharusnya sudah bisa menghirup udara bebas namun harus mendekam dibalik jeruji besi lebih lama lantaran kacaunya data tersebut.

"Ada seorang narapidana yang seharusnya sudah lepas dua bulan lalu, kemudian petugasnya nggak tahu. Lalu karena dia orang miskin, enggak punya advokat ya sudah nurut aja. Jadi banyak yang sudah lepas masih menginap lebih," ujarnya.

Sebagai informasi, di tahun 2016 saja tercatat ada lebih dari 187 ribu penghuni yang mendekam di dalam penjara, sementara kapasitas total dibalik jeruji besi itu hanya 120 ribu.

Seperti diketahui, salah satu alasan pemerintah merevisi PP Nomor 99 Tahun 2012 karena lembaga pemasyarakatan ada yang sudah penuh. Dalam draf revisi PP tersebut dikatakan pula bahwa ketentuan Justice Collaborator (JC) sebagai syarat remisi bagi pelaku korupsi, terorisme dan narkotika dihilangkan.

"Korupsi syaratnya lebih berat lah dapat remisi. Kalau misalnya diobral ya harus dipertanyakan," cibir dia.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini