Share

Perbedaan Gaya Kampanye Capres AS 2012 dan 2016

Ahmad Taufik , Okezone · Selasa 27 September 2016 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 27 18 1500007 perbedaan-gaya-kampanye-capres-as-2012-dan-2016-l6dz2XJJGR.png Capres AS 2012 dan 2016 (Foto: Reuters)

NEW YORK  - Sebagai negara demokrasi nomor satu di dunia, proses pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) akan menjadi sorotan internasional. Proses demokrasi di Negeri Paman Sam akan menjadi patokan banyak negara.    

Terlebih lagi, sejumlah kandidat Presiden AS memiliki gaya, karisma, dan cara tersendiri untuk menarik perhatian publik AS. Pada pilpres 2012, retorika kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat Barack Obama membuat banyak orang takjub. Kepiawaiannya mengolah kata-kata mampu menghipnotis jutaan warga AS.

Kala itu, kandidat Presiden AS, Mitt Romney dari Partai Republik menjadi lawan tangguh Obama. Bahkan, sejumlah polling di AS pada 2012 sempat mengunggulkan Romney. Apalagi, ia didukung oleh Presiden Bush dan kandidat Presiden AS pada 2008 dari Partai Republik John McCain.

Tidak kalah heboh dengan pemilihan umum empat tahun lalu, pergelaran pilpres AS 2016 diwarnai berbagai pernyataan mengejutkan dari kedua capres. Kandidat Presiden AS dari Partai Republik Donald Trump tidak ragu-ragu mengkritik kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Aksi saling tuding dan menjatuhkan kubu lawan menjadi ulasan banyak media internasional.

Okezone, Selasa (27/9/2016) merangkum perbedaan gaya kampanye yang dilakukan empat kandidat Presiden AS pada pergelaran pemilu 2012 dan 2016, yaitu Barack Obama, Mitt Romney, Donald Trump, dan Hillay Clinton.  

4. Donald Trump

Kandidat Presiden AS dari Partai Republik Donald Trump agaknya memilih gaya kampanye yang tidak biasa. Dalam setiap pidatonya, Trump begitu bersemangat dan menggebu-gebu. Bahkan, pengusaha sukses AS itu tidak segan-segan mengkritik lawan politiknya.

Trump adalah sosok yang penuh dengan kontroversi. Dalam setiap kampanyenya selalu saja ada hal yang membuat lawan politiknya gerah dan ingin menyerang balik. Baru-baru ini, Trump berulangkali menuding bahwa Presiden Barack Obama dan Hillary Clinton sebagai pendiri kelompok militan ISIS. Hillary juga disebut sebagai penyebab kekacauan di Timur Tengah.  

Kendati demikian, gaya ceplos-ceplos yang ditampilkan Trump telah mengantarkannya menjadi satu-satunya kandidat Presiden AS dari Partai Republik. Ia menyisihkan kandidat kuat lainnya. Itu menunjukkan bahwa banyak warga AS yang menyukai gaya kontroversi yang ditampilkan Donald Trump.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Saat Hillary tersandung dalam acara peringatan 9/11, Trump langsung menyerang Hillary dari sisi kesehatan. Trump menyebutkan Hillary menderita sakit dan dianggap tidak mampu menyelesaikan permasalahan warga AS. Beberapa hari kemudian, Trump melalui pemeriksaan dokter pribadinya langsung menunjukkan kepada publik AS bahwa ia berada dalam keadaan sehat.  

Selain itu, Donald Trump adalah kandidat Presiden AS yang juga responsif. Dalam menanggapi aksi provokatif pihak Korut yang dipimpin Kim Jong-un, Trump memberikan solusi yang cenderung kontroversial. Pada salah satu sesi kampanyenya, Trump menyebutkan bahwa AS harus mempersenjatai Jepang dan Korsel dengan senjata nuklir. Demikian pula saat isu imigran mengemuka, Trump berjanji jika ia terpilih sebagai Presiden AS, maka ia akan melarang para imigran dari Timur Tengah untuk memasuki AS.

3. Hillary Clinton 

Kata-kata kontroversi yang terus dilontarkan Donald Trump membuat Clinton sibuk menangkis serangan. Dalam sejumlah kampanye, isi pidato Hillary tidak jarang terkait dengan konfirmasi atas tudingan dan tuduhan yang dilontarkan Trump. Kendati demikian, tidak jarang Hillary juga menyerang balik Trump.

Menyikapi isu kesehatan medis, Hillary menyebut bahwa Trump sedang melancarkan serangan gila terhadapnya. Karena itu, dalam berbagai sesi kampanye, tim Hillary menjadi kelabakan menghadapi serangan dari kubu Trump.

Tidak hanya Trump, tudingan negatif juga dilontarkan kandidat Hillary. Ia menuduh pengusaha ternama itu telah menghina kaum veteran. Karena itu, menurut Hillary, Trump salah menilai tentang veteran dan tak layak menjadi seorang pemimpin.

Selain itu, Hillary juga menyerang Trump terkait sikapnya yang tidak merilis tagihan pajak. Hillary menuding Trump menyembunyikan banyak hal dari warga AS dan Trump tidak ingin rakyat AS mengetahui bahwa usaha Trump tidak sebagus dengan apa yang ia lontarkan selama ini.

2. Barack Obama

Berbeda dengan strategi kampanye yang diterapkan dua kandidat di atas, pada 2012, Barack Obama menemukan metode jitu untuk meraup suara dari para pendukungnya. Obama menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook sebagai tempat menyampaikan visi dan misinya ke seluruh publik AS.

Melalui media sosial, Obama terus mengampanyekan hal positif terkait pembangunan dan cita-cita Negeri Paman Sam ke depannya. Metode ini dianggap efektif oleh tim kampanye Obama karena pada masa itu kalangan anak muda dan kalangan menegah ke atas di AS sedang gencar-gencarnya menggunakan media sosial.

Bahkan, ada istilah mengatakan jika John F Kennecy (JFK) adalah Presiden AS pertama kali yang memahami televisi, maka Obama adalah presiden media sosial pertama yaitu Presiden AS yang terpilih berkat media sosial. Inilah yang membedakan Obama dengan kandidat lainnya. Melalui media sosial, rakyat AS bisa merasakan kedekatan dengan calon pemimpin mereka.

Dalam pilpres 2012, Obama sangat mendominasi media sosial dan tim suksesnya terus bekerja keras untuk mengoptimalkan penggunaannya. Kekuatan utama media sosial bukanlah terletak pada jumlah posting-an, tapi bagaimana tiap tweet dapat menyebarkan semangat kebersamaan. Pada intinya, hal utama dalam kampanye media sosial yang efektif adalah berdasarkan pada psikologi tindakan sosial suatu masyarakat .

1. Mitt Romney

Pada pilpres 2012, sebagaimana Obama, kandidat Presiden AS dari Partai Republik Mitt Romney juga menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi. Kendati demikian, tingkat efektivitas penggunaan media sosial tim Mitt Romney kalau jauh dari tim Obama.

Namun, banyaknya serangan negatif yang dilancarkan Romney kepada kubu Obama tampaknya tidak berhasil menarik simpati warga AS. Obama yang merupakan seorang petahana tentunya menjadi serangan empuk Romney. Sejumlah kebijakan Obama dalam hal pajak, ekonomi, perang AS di Timur Tengah dan lainnya terus menjadi sasaran kritik Mitt Romney. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini