KETIKA calon presiden Amerika Serikat berhadapan langsung pada debat pertama, bukan hanya yang mereka sampaikan yang dikaji, tapi juga bagaimana penampilan mereka juga akan dikaji.
Dan Hillary Clinton mencatat sejarah saat naik ke panggung debat presiden. Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian yang dihadapi calon presiden perempuan pertama AS ini melonjak; kebijakannya, e-mail-nya, dan hubungannya dikecam, dibedah, maupun dianalisa. Demikian juga dengan pakaiannya.
Perhatian pada pakaian dan gaya rambut sangat terlihat pada politik kontemporer AS. Setelan putih yang dikenakan Clinton dalam Konvensi Partai Demokrat dikaji para pengamat dari berbagai sudut; perbandingan dengan cahaya, dukungan terhadap seragam pejuang hak wanita, serta acuan kepada warna putih dalam bendera Amerika Serikat, Stars and Stripes.
Sementara Donald Trump mendapat perhatian yang lebih rendah dan sering kali diejek karena kulitnya yang terbakar, setelan kotak, gaya rambut, dan bahkan ukuran tangannya.
Semua hal tersebut bisa menggelikan, bahkan tidak ada hubungannya jika dikaitkan dengan cara menjalankan negara.
Tetapi jelas naif untuk beranggapan bahwa penampilan tidak berarti dalam politik karena kenyataannya politikus modern bergantung pada substansi juga dan citra. Ini bukanlah konsep baru. Pada tahun 1960-an, ketika pemilihan umum menjadi acara televisi dengan debat televisi antara Nixon dan Kennedy, yang dipandang sebagai penentu kemenangan adalah yang berpenampilan baik.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa penampilan lebih menentukan dalam dunia politik dibanding yang mereka akui sendiri
Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan di Psychological Science yang dipimpin Alexander Todorov dari Princeton University, mengungkapkan para sukarelawan yang sekilas melihat foto-foto calon politikus yang tidak dikenal ternyata dapat memperkirakan hampir 70% yang menang dalam pemilihan anggota Senat dan DPR tahun 2006.
Berdasarkan hal ini, maka komentar Marco Rubio tentang tangan Trump yang kecil, bukan lagi sekadar sindiran, tapi menjadi upaya tidak langsung untuk merendahkan kemampuan Trump sebagai pemimpin.
“Kita hidup dalam masyarakat yang sangat mementingkan visual,” kata Corey Roche, penata gaya untuk kliennya di Hollywood dan Washington. “Fesyen adalah bahasa universal, percaya atau tidak, merupakan salah satu kesan pertama dan paling bertahan.”
Dr Rebecca Arnold, pengajar sejarah pakaian dan tekstil di Courtauld Institute, setuju bahwa perhatian pada penampilan politikus meningkat di zaman media sosial, ketika berita seringkali ditentukan oleh citra.
“Ini mewakili kebudayaan kita secara keseluruhan, ada obsesi meluas terkait dengan penampilan dan penyajian diri sendiri, yang dipertajam media digital.”
Tetapi, Dr Arnold menambahkan, tidak diragukan lagi terdapat perbedaan terkait jenis kelamin.
“Wanita masih lebih memperhatikannya dan tidak memiliki seragam setelan pria yang sudah diterima umum. Tetapi penting untuk mengingat bahwa tidaklah aneh bagi politikus wanita -atau wanita secara umum- untuk lebih dikaji dan diadili secara lebih kejam terkait pilihan mereka.”
Hal itu karena panutan untuk wanita yang berkuasa tetap belum jelas, kata Lauren A Rothman, seorang penata gaya di Washington dan penulis “Style Bible: What To Wear To Work”.
“Kita tidak memiliki banyak contoh penampilan wanita penguasa.”
Sebaliknya yang dipakai pria jarang diperhatikan.
Foto: AP
“Bagi pria terdapat seragam terkait dengan memimpin negara, setelan biru dengan kemeja putih, dasi merah atau biru. Itu masih belum berkembang di kalangan wanita. Saya pikir kita akan menyaksikan banyak pengulangan dari cara berpakaian dari wanita yang berkuasa karena semakin banyak wanita yang melanggar batasan-batasan”.
Silahkan, perempuan lebih dulu
Biasanya ibu negara dan istri politikus lebih berani mengambil risiko. Angela Merkel cenderung menyesuaikan diri dengan seragam pria, yang mendukung pandangan bahwa supaya terlihat berkuasa di dunia pria maka wanita harus berpakaian seperti pria. Strategi ini diterapkan oleh pemimpin Cile, Michelle Bachelet, ataupun Dilma Roousseff dari Brasil dan sampai tahap tertentu oleh Ketua Dewan Menteri Skotlandia, Nicola Sturgeon.
Sedangkan Margaret Thatcher menggunakan taktik yang berbeda lewat blus berpita, kalung mutiara, dan tas tangan untuk menciptakan citra yang cenderung seperti karikatur, sementara mantan presiden Argentina, Cristina Fernández de Kirchner terkenal dengan pakaian yang sangat feminin dengan hiasan renda.
Dan Hillary Clinton serta Theresa May -dua perempuan yang berkuasa- mengubah arti berpakaian bagi pemimpin dunia.
Mulai dari kecintaannya akan majalah mode Vogue dan kalungnya yang mencolok, kegemaran Theresa May akan fesyen mendapat banyak catatan. Perdana Menteri Inggris memperlihatkan bahwa menyukai fesyen dan menangani Pasal 50 -yang akan menjadi awal dari proses resmi Inggris untuk ke luar dari Uni Eropa- tidak bertentangan.
Pesannya positif bagi wanita muda agar mereka tertarik pada pakaian dan sekaligus memiliki pekerjaan serius. Tetapi posisi fesyen bagi May juga agak aneh.
ketika dia berdiri di depan kantor perdana menteri Inggris, 10 Downing Street, dengan memakai sepatu hak pendek dengan corak kulit macan, serta jaket Amanda Wakeley, ternyata foto itu sudah menyebar di internet sebelum orang-orang memahami yang dia sampaikan.
Perdana menteri baru sepertinya memahami bahwa pakaian adalah salah satu benda yang universal. Bagi May, perhatiannya pada fesyen membuatnya lebih manusiawi dan menambah keragaman pada pribadinya yang tegas. Strategi ini digunakan mantan atasannya saat mengubah citra negatif Partai Konservatif dengan menggunakan sepatu kanvas Converse All Stars.
Clinton kemungkinan tidak terlalu mencintai pakaian, tetapi jelas menyadari arti pentingnya. Sikapnya terhadap fesyen berubah sejak pemilihan presiden AS periode yang lalu. Dia menyewa Kristina Schake, mantan staf Michelle Obama, untuk membantu dalam membentuk citranya dan menggunakan seniman make-up yang bekerja pada film serial Veep. Dia bahkan muncul di Majalah Vogue edisi Amerika Serikat, yang sebelumnya dia hindari. Kulit, manik-manik, dan Armani tiba-tiba masuk dalam agendanya.
“Dalam pemilihan yang lalu, satu-satunya ciri gayanya adalah bahwa dia berpakaian seperti pria. Sekarang dia menggunakan feminisme sebagai senjata, dan pakaian adalah cara untuk menyampaikannya,” kata Rothman.
“Ketika memperlihatkan diri sebagai ibu, nenek, maupun ketika memperlihatkan foto rak pakaian di Instagram, dia sedang mengatakan dirinya adalah seorang wanita”.
Dengan kata lain, fesyen menjadi senjata yang digabungkan Clinton ke dalam strategi politik.