Berpijak pada kenyataan
Kunci pakaian politikus, apapun jenis kelaminnya, adalah mengungkap kode tujuan, bukan sekadar apakah pakaian itu mengikuti trend, menurut Dr Arnold.
“Saya pikir fesyen itu sendiri dihindari oleh kebanyakan politikus, jadi lebih terkait dengan nilai-nilai yang ingin disampaikan.”
Rothman sepakat, “Ini semua bagian dari pesan visual; ada sejumlah politikus yang berusaha mencari seperti 'apa politikus terlihat'.
Bayangkan para politikus klasik di Capitol Hill yang menggunakan bingkai kacamata dari logam, pakaian yang kebesaran dan noda saus di jaketnya -jangan beranggapan politikus berpakaian buruk karena mereka tidak memahami yang mereka lakukan.”
Hal itu membawa kita untuk membicarakan Jeremy Corbyn, seorang pria yang banyak dikecam, termasuk oleh ibu mantan perdana menteri Inggris David Cameron, karena dianggap tidak mematuhi norma Westminster, parlemen Inggris.
Roche mengatakan, bahwa anggaran adalah masalah yang peka bagi para pelanggannya di Washington karena mereka harus terlihat tidak 'berjarak' dengan rakyat. Dia mengacu kepada Joe Biden yang 'diserang' karena memakai sepatu seharga USD800 atau sekitar Rp10 juta meskipun dia sudah kaya sebelum menjadi politikus. Presiden Prancis, Francois Hollande, menghadapi perlakuan yang sama karena perawatan rambutnya senilai 8.700 poundsterling atau Rp146 juta per tahun.
Donald Trump belajar dari hal ini, kata Rothman, “Dia berusaha menyesuaikan diri dengan cara berpakaian politikus. Kita tidak menyaksikan gaya setelan canggih, setelannya kadang-kadang terlihat kebesaran.
“Trump memilih berpakaian seperti politikus, bukannya pengusaha keuangan Wall Street dan ini membantunya mendapatkan dukungan,” tambah Rothman.
Setelan kotak dan dasi sudah sangat berbeda dengan setelan Barack Obama yang langsing dengan lengan kemeja digulung tanpa dasi. Gaya Trump bisa dipandang mengikuti zaman Reagan tahan 1980-an, yang seringkali disebut-sebut pendukung Partai Republik sebagai ‘zaman keemasan’ Amerika.
Dia terus setia dengan setelan birunya sepanjang kampanye dan tidak pernah mengenakan pakaian santai. Kadang-kadang tidak memakai dasi dan mengenakan topi baseball bertuliskan Make Amerika Great Again tapi setelan birunya tetap dipakai. Yang disampaikan adalah citra 'pimpinan negara’ dan membangkitkan gaya lama pemimpin bisnis.
Bahkan sebelum mencalonkan diri sebagai presiden, Trump sudah memahami pentingnya citra. Rambut dan kulit terbakarnya mungkin diejek selama puluhan tahun, tetapi mengukuhkan Trump dan siapa yang diwakilinya dalam benak para pemilih.
Para calon memang seharusnya dinilai secara adil dan serius berdasarkan substansi pesan mereka, namun dalam zaman citra yang menentukan berita, jelas merupakan kebodohan untuk mengabaikan isyarat visual yang diatur dengan seksama yang disampaikan oleh calon presiden dari kedua jenis kelamin. Bagi politikus di panggung dunia saat ini, memakai pakaian yang tepat itu amat ternilai.
Tetapi saat Trump dan Clinton berdebat, Rothman memperkirakan tidak terjadi perubahan gaya di panggung.
“Dalam dunia pakaian kekuasaan, yang penting adalah segera dapat dikenal, jadi bagi Hillary adalah setelan celana dan untuk Trump adalah setelan kebesaran dan tentunya rambut yang menjadi ciri khasnya.”
(Tuty Ocktaviany)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.