nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketika ''Racun'' Internet Merasuki Anak Desa

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 28 Oktober 2016 14:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 10 28 340 1526874 ketika-racun-internet-merasuki-anak-desa-nRf98EE1TC.jpg Lima terdakwa pemerkosa dan pembunuh Yuyun disidang di PN Curup (Demon/Okezone)

BENGKULU – Kabar duka itu berembus dari Bumi Raflesia. Yuyun (14), siswi SMP di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, mengalami perlakukan tidak wajar. Ia diperkosa belasan pemuda secara bergilir lalu dibunuh di area perkebunan karet. Mayatnya dicampakkan di semak-semak.

Peristiwa sadis itu terjadi Sabtu 2 April 2016. Kasusnya menghiasi media massa lokal dan nasional. Kecaman, keprihatinan, dan rasa solidaritas bermunculan. Perkara ini pun bergulir ke meja hijau, terdakwanya sudah divonis di pengadilan tingkat pertama.

Pagi itu, Kamis 29 September 2016, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Curup memvonis bersalah enam terdakwa kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun. Pertama disidang adalah terdakwa berinisial Ja (13).

Ketua Majelis Hakim, Heny Faridha, sempat meneteskan air mata saat membaca fakta hukum sebelum memutuskan perkara dilakukan Ja yang masih di bawah umur. Sidang pun terhenti sejenak, lantaran Heny sedih atas kasus menimpa Yuyun.

Berselang beberapa menit, sidang kembali berlanjut. Ja dijatuhkan hukuman berupa perawatan di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP), Bambu Apus Cipayung, Jakarta Timur.

Usai memvonis Ja, majelis hakim kembali menyidang lima terdakwa lainnya yang sudah dewasa. Mereka terbukti memperkosa dan membunuh Yuyun, remaja yang tinggal di desa berjarak sekira 100 kilometer dari Kota Curup.

Dari lima terdakwa, hanya Zainal alias Bos yang diputuskan hukuman mati. Hakim menyatakan, Bos merupakan dalang atau otak kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun.

Usai divonis mati, orangtua Zainal yang hadir dalam sidang itu menangis. Namun, tidak demikian dengan kedua orangtua Yuyun berinisial Ya dan Yn. Keduanya mengamuk dan berteriak-teriak karena tak terima hanya satu orang yang dihukum mati. Sedangkan empat rekan Zainal malah divonis masing-masing 20 tahun penjara.

“Aku tidak mau mereka dihukum 20 tahun. Aku mau mereka (empat terdakwa) dihukum mati,” teriak ibu Yuyun sembari keluar dari ruang sidang. “Itu tidak adil, saya minta hukuman mati,” lanjutnya lagi.

 

Sidang vonis Ja (Demon/Okezone)

Dalam fakta hukum di persidangan memang terungkap bahwa salah satu penyebab pemerkosaan Yuyun adalah pengaruh video porno yang ditonton melalui telepon pintar terkoneksi internet milik salah satu tervonis.

“Ja sempat menonton video porno dari salah satu handphone milik terdakwa lainnya,” kata Ketua Majelis Hakim PN Curup Heny Faridha saat menyidang perkara itu. Ia didampingi hakim anggota Hendry Sumardi dan Fakhrudin.

Sebelum sidang vonis dimulai, Ai, orangtua terdakwa Tomi Wijaya mengatakan, anaknya terlibat dalam kasus Yuyun lantaran pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengakui kalau putranya itu menonton video porno lantaran meminjam HP terdakwa lain.

''Anak saya tidak memegang HP yang bagus. Adanya HP buruk (jelek) itu pun juga sudah rusak. Dia (Tomi) selalu saya awasi setiap hari. Kalau pun nonton video senonoh dia pinjam HP temannya,'' kata Ai.

Kuasa hukum terdakwa Ja, M Gunawan menyebutkan, anak-anak di daerah tersebut sangat minim pengawasan orangtua, sehingga cepat terpengaruh dengan peradaban teknologi modern seperti internet. Namun, internet sering disalahgunakan.

Atas pengaruh “racun” internet itu, kata Gunawan, Ja pun tanpa sadar telah menjadi korban sekaligus pelaku pemerkosaan terhadap Yuyun. Ja hidup dalam keluarga yang tidak harmonis.

“Orangtua Ja kalau pagi hari ke kebun dan terkadang tidak pulang beberapa hari. Sehingga Ja kurang mendapatkan pengawasan dan perhatian dari orangtua. Dia bisa melihat video porno dari HP temannya,'' ujar Gunawan.

Menurut Ketua Women's Crisis Center (WCC) Harapan Perempuan, Rejang Lebong, Suhartini, peristiwa memimpa Yuyun tidak terlepas dari pengaruh video porno dan minuman keras (Miras).

WWC mencatat bahwa Kabupaten Rejang Lebong yang berpenduduk sekira 500 ribu jiwa memiliki enam kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan sepanjang Januari hingga September 2016. Satu di antaranya adalah pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun.

“Setiap kasus yang kita dampingi kepada keluarga korban, kebanyakan pelaku terpengaruh oleh video porno yang diakses melalui HP,” kata Suhartini.

Kurangnya perhatian, pengawasan, dan pendidikan atas teknologi smartphone serta internet dari orangtua, menjadi salah satu faktor masih tingginya aksi kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Koordinator Divisi Pelayanan Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, Desi Wahyuni mengatakan, angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di provinsi itu mencapai 392 kasus sejak 2012 hingga September 2016.

Rinciannya pada 2012 ada 110 kasus, 2013 sebanyak 65 kasus, 2014 sebanyak 55 perkara, 2015 sebanyak 94 kasus, dan sepanjang tahun ini sudah ada 68 kasus.

''Jika kasus pemerkosaan, pencabulan, pelecehan seksual yang terjadi ada lima kasus, maka 4 kasus pengaruh dari video porno. Semua data yang kita miliki itu berdasarkan pendampingan yang kita lakukan selama lima tahun terakhir,'' jelas Desi.

Kepala Bidang Aplikasi Telematika dan Desminasi Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi (Dishubkominfo) Bengkulu, Bambang Herawan, juga mengakui bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan tidak terlepas dari pengaruh konten porno yang mudah diakses diinternet terutama lewat telepon genggam.

Di Bengkulu, kata Bambang, telah berdirinya 246 menara tiga provider, semuanya tersebar di 10 kabupaten dan kota di provinsi berpenduduk sekira 1,9 juta jiwa itu.

Bambang memprediksi, dari jumlah menara-menara tersebut maka pelanggannya tidak kurang dari 1,5 juta. Jumlah itu diketahui setelah pihaknya menggelar sosialisasi internet sehat dan internet cerdas, kreatif dan produktif (Cakap) melalui mobile-comunication acses point (CAP) di 44 desa atau kelurahan. Sosialisasi digelar sejak 2013 hingga 2015.

''Desa yang kita gelar sosialisasi rata-rata desa pelosok. Kebanyakan HP bagus atau smartphone banyak digunakan kalangan anak-anak atau pelajar SMP dan SMA,'' jelas Bambang.

 

Sosialisasi internet Cakap (Demon/Okezone)

Untuk mencegah penyalahgunaan smartphone terkoneksi internet di pelosok desa, pihaknya mengedukasi sekaligus mengajak para orangtua terlibat mengawasi anaknya.

“Dalam edukasi itu orangtua yang telah memberikan smartphone kepada anak agar diawasi selalu dan adanya pembatasan penggunaan smartphone. Boleh membuka akses internet, namun harus ditemani dan dilihat konten apa yang dibuka,'' imbuh Bambang.

Atas tingginya aksi kekerasan terhadap anak akibat pengaruh konten pornografi, Bupati Rejang Lebong, Ahmad Hijazi pun bereaksi dengan meminta Satpol PP merazia warung internet (warnet) saat jam sekolah agar tak dimanfaatkan para siswa.

Dinas Pendidikan Rejang Lebong juga melarang pelajar SD, SMP dan SMA membawa HP ke sekolah. Namun, larangan itu baru sebatas aturan dan belum diperkuat dengan peraturan daerah (perda).

''Siswa dilarang membawa HP ke sekolah sudah diterapkan sejak tahun ajaran baru ini (2016/2017). Itu langkah mengurangi pelajar membuka HP saat jam belajar terlebih lagi membuka konten negatif saat jam sekolah,'' ujar Hijazi.

Langkah lainnya, tutur Hijazi, melalui Dewan Pendidikan telah mensosialisasikan kepada seluruh orangtua pelajar yang tersebar di 156 desa dari 15 kecamatan. Tujuannya, agar saat anak menggunakan HP bisa didampingi dan dipantau secara langsung.

''Pendampingan dari orangtua itu sangat penting. Jadi, kita minta orangtua bisa meluangkan waktu mengawasi anak ketika menggunakan HP, dan bisa menyampaikan secara langsung konten negatif dan konten positif yang bisa dibuka dengan menggunakan smartphone,'' pungkas Hijazi.

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini