HAMPIR di semua daerah di Indonesia, menyimpan kisah-kisah sejarah besar di masa revolusi. Jika Bandung punya kisah “Bandung Lautan Api” dan Surabaya punya cerita “Pertempuran 10 November”, di Kota Semarang tersimpan goresan sejarah “Pertempuran 5 Hari” (15-20 Oktober 1945).
Kisahnya berawal dari masa transisi pascaproklamasi 17 Agustus 1945, di mana banyak barisan rakyat dan pemuda Indonesia yang menggeruduk markas-markas Jepang. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menuntut Jepang menyerahkan persenjataannya, demi menghadapi sekutu dan Belanda yang turut membonceng.
Di beberapa daerah lain, serdadu-serdadu Jepang ada yang bersedia menyerahkan persenjataan dengan cara damai dan ada pula yang harus lebih dulu menumpahkan darah. Hal ini pula yang turut jadi pemikiran para pemuda di Semarang pada Oktober 71 tahun lampau.
Sebagai negosiator, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) kala itu Mr Wongsonegoro, datang menemui Mayor Kido, komandan Pasukan Kidobutai di Jatingaleh. Sayangnya, Mayor Kido hanya berkenan memberikan sejumlah senjata tua.
Ini yang membuat para pemuda tidak puas. Alhasil, para pemuda memilih aksi perampasan senjata dari tentara Jepang di beberapa tempat. Ketegangan terjadi di seantero Kota Semarang akibat berbagai aksi-aksi perampasan ini.