Tensi di Semarang meningkat setelah terjadi peristiwa kaburnya 400 tawanan serdadu Jepang pada 14 Oktober 1945. Tidak hanya kabur, mereka juga menyerbu delapan Polisi Istimewa atau PI (cikal bakal Brimob Polri) di Reservoir Siranda dan melucuti senjatanya.
Sementara itu, tokoh kedokteran di Semarang, Dokter Kariadi, tengah melakukan penyelidikan di Reservoir Siranda karena ada isu bahwa Jepang sudah menebar racun ke penampungan air di kawasan Candilama tersebut.
Tapi sebelum sampai ke lokasi, mobil yang dikendarai Dr Kariadi dengan dikawal beberapa Tentara Pelajar (TP), dicegat dan ditembaki. Dr Kariadi sempat coba dilarikan ke Rumah Sakit Purusara (kini, Rumah Sakit Dr Kariadi), tapi nyawanya tak tertolong.
Meninggalnya Dr Kariadi itu tak pelak jadi klimaks ketegangan antara pemuda dengan Kidobutai. Sehari setelah Dr Kariadi ditembaki, satu batalion (sekira 1.000 tentara) Pasukan Kidobutai kembali bergerak mengepung Kota Semarang. Bahkan mereka turut mengikutsertakan warga-warga sipil asal Jepang.
Pertahanan pejuang di daerah Jatingaleh dan Gombel pun sukses diterobos Jepang pada 18 Oktober atau tiga hari sejak pecahnya pertempuran. Namun sehari kemudian, datang perwakilan sekutu dan pemerintah RI, untuk “memaksakan” gencatan senjata.