Tapi di beberapa front, pertempuran terus terjadi hingga baku tembak baru terhenti pada 20 Oktober 1945. Disebutkan, sekira 2.000 orang di pihak Indonesia jadi korban. Sementara tercatat 850 tentara Jepang juga binasa.
Peristiwa berdarah selama lima hari di “Kota Lumpia” itu sedianya rutin diperingati Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang di Bundaran Tugu Muda dengan disertai malam renungan. Tapi peringatan yang unik dan berbeda turut dibawakan para penggiat sejarah Semarang Historical Reenactment (SHR).
Bekerja sama dengan PT KAI Divisi Heritage dan sejumlah reenactor (pereka ulang sejarah) dari berbagai kota lainnya, SHR menggelar aksi teatrikal “Pertempuran 5 Hari Semarang” di Lawang Sewu, 23 Oktober lalu.
Koordinator event Wisnu Yogi, menguraikan bahwa aksi teatrikal yang dikemas dengan lebih otentik ini, ditujukan sebagai pembelajaran bagi masyarakat Kota Semarang.
“Untuk memperingati 71 tahun peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang dan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa pertempuran yang pernah terjadi dulu itu ya seperti ini,” terang Wisnu kepada Okezone.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, agar para generasi muda Semarang ini tahu akan sejarah perjuangan di kotanya. Perjuangan meraih kemerdekaan yang tidak mudah. Semoga generasi muda bisa meneladani semangat juang saat itu dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, dengan membangun Kota Semarang yang kita cintai,” tandasnya.