PILPRES AS: Tukar Suara, Cara Pemilih 'Mainkan' Sistem Pemilu AS

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 08 November 2016 12:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 11 08 18 1535762 tukar-suara-cara-pemilih-mainkan-sistem-pilpres-as-p1ERhQD5VF.jpg Foto: Reuters

NEW YORK – Sophie Warner, ingin memberikan suaranya kepada capres pihak ketiga Jill Stein dalam pemilihan presiden AS (pilpres). Namun, dia khawatir suara yang diberikannya kepada kandidat dari Partai Hijau itu akan membantu Capres Partai Republik Donald Trump melenggang ke Gedung Putih.

Melalui website “Trump Traders”, mahasiswa biologi Cleveland State University itu terhubung dengan Marc Baluda, seorang pengacara korporat dari California yang ingin memberikan suaranya kepada capres Partai Demokrat Hillary Clinton. Kedua orang yang tidak saling kenal itu sepakat untuk melakukan pertukaran suara dalam pilpres 8 November mendatang.

Sesuai kesepakatan, Sophie akan memberikan suaranya kepada Hillary di Ohio, yang merupakan salah satu swing states di mana persaingan suara kedua capres akan ketat. Sementara Marc akan memilih Jill Stein di California yang secara tradisional hampir pasti dimenangkan oleh capres Partai Demokrat melalui electoral college.

Cara ini dilakukan oleh puluhan ribu pemilih yang telah setuju untuk bertukar suara pada pemilihan Selasa waktu AS. Tentu saja, tidak ada cara yang dapat digunakan untuk memverifikasi suara tersebut benar-benar diberikan. Meski ada sebagian yang melakukan swafoto di tempat pemungutan suara, beberapa negara bagian melarang hal itu.

Tukar suara dilakukan dengan memanfaatkan ciri khas yang dimiliki pilpres AS di mana pemenang tidak ditentukan dengan jumlah suara populer vote melainkan dengan electoral college. Dengan metode ini, seluruh suara di satu electoral college akan diberikan kepada capres yang mendapat suara mayoritas di negara bagian mereka. Keseluruhan pemenang electoral college kemudian diangkat menjadi Presiden AS.

Karena sistem ini juga swing states seperti Ohio menjadi sangat penting dan diperebutkan kedua kandidat.

Sehari sebelum pemilihan, Reuters, Selasa (8/11/2016) melaporkan Trump Trader telah mencocokkan 40 ribu pemilih yang ingin bertukar suara. Jumlahnya memang tidak signifikan, tapi beberapa ratus suara dapat memberikan perbedaan di negara bagian dengan persaingan yang ketat.

Meski beberapa pihak tidak setuju, praktek bertukar suara telah dinyatakan sah dan legal secara hukum pada 2007. Cara ini dianggap sebagai salah satu bentuk kebebasan berpendapat yang terlindungi.

Pertama kali mendapat perhatian pada 2000 saat para pemilih berusaha memastikan kandidat pihak ketiga Ralph Nader tidak terlalu banyak mengambil suara dari capres Partai Demokrat Al Gore yang menguntungkan lawannya George W. Bush. Cara ini gagal saat Bush memenangi pilpres saat itu setelah menguasai Florida dengan selisih 597 suara.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini