Satu per satu pula warga desa yang laki-laki diinterogasi. Saat tak ditemui jawaban yang dikehendaki tentang di mana tentara republik bersembunyi, nyawa warga desa pun melayang.
Dua di antaranya adalah Adul dan Atung. Dua kakak beradik yang rumahnya sempat dibakar dan ayahnya juga ditembak Belanda. Mayat mereka sempat dikuburkan ibunya yang bernama Ibu Martem dekat rumah, tapi kemudian dipindah ke Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga di belakang Monumen Rawagede.
Kisah ini didapat Okezone ketika menelusuri Monumen Rawagede belum lama ini dan bertemu Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede di lokasi. Kisah itu juga diabadikan dengan patung berwarna emas di lantai dua monumen yang ‘kelar’ dibangun pada 1995 itu.
“Dulu yang mengajukan dibuatnya patung berwarna emas menggambarkan seorang ibu merangkul anaknya (di lantai) itu, berdasarkan kisah keluarga Ibu Martem. 9 Desember 1947, rumah Bapak dan Ibu Martem digedor sama Belanda, seperti rumah-rumah yang lain,” terang Sukarman kepada Okezone.