“Digedor Belanda, sekira satu jam enggak keluar-keluar mereka. Rumahnya pun dibakar dan ketika hampir habis (hangus) semua rumahnya, baru bapaknya lari keluar diikuti ibunya. Nah, Atung dan Adul juga kemudian lari saat Belanda mengejar bapaknya,” imbuhnya.
Ditambahkan Sukarman, kala itu dua anak baru gede (ABG) itu ikut diuber Belanda, setelah Belanda menembak mati ayahnya. Adul yang saat itu baru 17 tahun dan Atung dua tahun lebih muda, ikut tertangkap di tepian sungai.
“Setelah membunuh ayahnya, Belanda mengejar Adul dan Atung. Pas dipinggir kali ditangkap dan pas mau dibantai, mereka berangkulan. Meninggallah keduanya, dihanyutkan Belanda ke kali,” sambung Sukarman.
Ibu Martem yang selamat dari pembantaian itu, mengerahkan keluarganya yang tersisa untuk mencari kedua anaknya. Baru empat hari berselang, Adul dan Atung ditemukan di sebuah tepian sungai.