nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

NEWS STORY: Nama Kartini yang Harum di Negeri Kincir Angin

Randy Wirayudha, Jurnalis · Sabtu 17 Desember 2016 08:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 12 16 337 1568825 news-story-nama-kartini-yang-harum-di-negeri-kincir-angin-s4qO2dGYfQ.jpg RA Kartinistraat di salah satu kota di Belanda (Foto: Twitter)

SAAT bicara Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember, mestilah turut disebutkan nama-nama pahlawan wanita Indonesia. Mesti pula yang terlintas di benak kebanyakan dari kita adalah nama Raden Adjeng (RA) Kartini.

Di sini kita takkan membahas riwayat atau biografinya. Ataupun soal bagaimana dia bisa menjadi inspirasi dari emansipasi wanita di negeri kita, melainkan soal namanya yang diabadikan di empat jalan di “Negeri Kincir Angin”, Belanda.

Jadi tidak hanya di Indonesia, di Belanda pun ternyata ada. Jadi buat kamu-kamu yang sedang berada atau berniat ke Belanda, mungkin ada baiknya melihat langsung nama RA Kartini atau dijadikan nama jalan (Kartinistraat) di empat kota di Belanda.

Ada di Kota Utrecht, Venlo, Haarlem dan tentunya di ibu kota Amsterdam. Hebatnya, Jalan RA Kartini atau Kartinistraat turut disandingkan dengan sejumlah tokoh dunia.

Seperti disandingkan dengan nama-nama macam Anne Frank dan Mathilde Wibaut di Venlo, nama jalan Che Guevara di Utrecht, nama jalan Rosa Luxemburg serta Nilda Pinto dan Isabella Richaards di Amsterdam, hingga nama jalan Mohammed Hatta dan Sutan Sjahrir serta Chris Soumokil di Haarlem.

Biasanya, nama-nama jalan yang diabadikan di Belanda ini tak sembarang diabadikan. Lazimnya, nama-nama tenar dunia itu punya arti tertentu buat “Negeri Tulip” dengan berbagai alibi.

Dalam artikel ini takkan diuraikan bagaimana kaitannya Guevara, Anne Frank, hingga Sutan Sjahrir dengan Belanda. Tapi kali ini penulis akan mencoba membeberkan beberapa kontroversi yang menyelimuti Kartini dengan Belanda, di balik riuhnya puja-puji terhadap Kartini di Indonesia.

Kalau bicara pahlawan wanita, tentu bukan hanya Kartini yang punya jasa tak terkira bagi negeri kita. Masih ada nama-nama macam Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, hingga Laksamana Keumalahayati.

Kalau mau jujur, peran mereka dan beberapa lainnya yang tak bis disebutkan namanya, nampak lebih nyata ketimbang Kartini. Cut Nyak Dhien dan Laksamana Keumalahayati kita kenal sebagai wanita petarung dari Aceh, sementara Dewi Sartika membuka sekolah bagi para wanita sejak 1904 di Bandung.

Nah kalau Kartini? Well, kita tahu Kartini disebutkan mencetuskan pemikiran-pemikiran tentang wanita yang “independen”, yang tidak hanya harus bergelut di dapur dan di kasur.

Namun lagi-lagi kalau kita mau jujur, pemikirannya itu hanya disampaikan lewat surat terhadap sahabat penanya di Belanda. Jikapun ada Sekolah Kartini yang dibuka pada 1913 di Semarang, itupun dirintis orang Belanda, Van Deventer dengan disokong dana Komite Kartini Fonds yang berada di...Den Haag, Belanda.

Kontroversi yang satu ini juga pernah diungkit mendiang sejarawan Harsja W Bachtiar dalam artikel yang dituliskannya dalam buku ‘Satu Abad Kartini’. Dalam artikel bertajuk ‘Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita’, Harsja mengindikasikan bahwa sosok Kartini tak lebih cari “ciptaan” kolonialis Hindia Belanda.

“Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri labang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja.

Soal gagasan-gagasan tentang emansipasi yang lahir dari Kartini pun sedianya berasal dari aktivis sosial-demokrat Belanda, Estella Zeehandelaar. Kala itu, pemerintah Hindia Belanda memang tengah gencar menggulirkan “Politik Etis” dan dianggap, Kartini akan jadi sosok yang pas ditampilkan sebagai “srikandi Indonesia”.

Terlebih sejak awal, Belanda melihat di antara para tokoh wanita lainnya, Kartini-lah yang dianggap nihil motivasi menentang pemerintah Hindia Belanda. Soal buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, itupun awalnya diterbitkan di Belanda.

Judul awalnya adalah ‘Door Duisternis Tot Licht’ (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku itu merupakan intisari dari kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat penanya di Belanda yang diedit Rosa Abendanon, istri dari Henrij Abendanon yang juga Direktur Departemen Pendidikan Agama dan Industri Hindia.

Terlepas dari kontroversi ini yang tak luput dari perdebatan, ada kisah tragis tentang akhir hidup Kartini. Dalam catatan, Kartini meninggal di usia muda, 25 tahun atau tepatnya 17 September 1904.

Tepat pula empat hari pasca-Kartini melahirkan Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggalnya saat bersuamikan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Singgih. Sosok yang dikemudian hari turut berperan dalam Perang Kemerdekaan Indonesia sebagai Komandan Brigade V Divisi II Cirebon serta Panglima Divisi III Diponegoro.

Dalam buku ‘Kartini: Sebuah Biografi’ karya Sitiosemandari, diduga Kartini meninggal karena dibunuh. Padahal pasca-melahirkan, kondisi Kartini masih sehat wal afiat.

Tapi setelah kedatangan seorang dokter Belanda, Van Ravesteyn yang sempat mengajak Kartini minum anggur untuk “merayakan” keselamatan ibu dan bayi, kondisi Kartini kritis.

Ada dugaan, anggur yang diminum itu diracun hingga akhirnya tutup usia. Sayang saat itu belum dikenal autopsi untuk mencari penyebab kematiannya hingga akhirnya masih menyisakan misteri.

Sekira setengah abad setelah Kartini meninggal, namanya diangkat dengan status pahlawan lewat Keppres Nomor 108 Tahun 1964. Sekaligus Presiden pertama RI Soekarno menetapkan hari lahir Kartini pada tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini