Share

Kecil Peluang Dewan Elektoral Memilih Hillary sebagai Presiden AS

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Selasa 20 Desember 2016 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 20 18 1570894 kecil-peluang-dewan-elektoral-memilih-hillary-sebagai-presiden-as-Jz6rl7PFry.jpg Surat suara yang digunakan dalam pemilihan dewan elektoral (Foto: Jonathan Ernst/Reuters)

WASHINGTON – Dewan Elektoral Amerika Serikat (AS) memulai pemungutan suara untuk menetapkan Donald John Trump sebagai presiden menggantikan Barack Obama. Hampir dapat dipastikan, anggota dewan elektoral tidak akan melakukan revolusi dan mengubah suara mereka untuk memenangkan Hillary Clinton.

Sebelumnya, Partai Demokrat dan Hillary Clinton berharap Dewan Elektoral akan mengubah suara mereka. Pemilihan elektoral sendiri biasanya hanya sebagai formalitas. Akan tetapi, kesempatan kali ini menjadi sorotan setelah Hillary Clinton kalah dalam cara penentuan per negara bagian meski memenangi popular votes.

Muncul sejumlah unjuk rasa pada Senin 19 Desember 2016 di beberapa negara bagian. Kendati demikian, hampir tidak mungkin 508 anggota dewan elektoral mengubah suara mereka. Seorang kandidat harus meraih minimal 270 suara untuk memenangkan pemilihan elektoral. Donald Trump meraih 306 suara dari 30 negara bagian pada pemilihan presiden (Pilpres) 8 November 2016.

Hasil pemungutan suara dewan elektoral akan secara resmi diumumkan pada Sidang Kongres 6 Januari 2017. “Saya pikir Anda tidak perlu menunggu adanya kejutan pada 6 Januari 2017. Sangat tidak mungkin elektor dari Partai Republik akan mengubah suara mereka. Jika memang demikian, maka akan ada rencana rahasia,” tutur pengamat politik Columbia University Robert Erikson, seperti dimuat Reuters, Selasa (20/12/2016).

Beberapa anggota dewan elektoral asal Partai Demokrat meminta koleganya asal Partai Republik untuk mengubah suara. Namun, sebanyak 24 negara bagian memiliki hukum yang mencegah anggota dewan elektoral terpilih untuk mengganti pilihan mereka. Akan tetapi, ada saja oknum-oknum yang mengingkari ikrar mereka dan mengubah pilihan.

Dewan Elektoral didirikan pertama kali pada 1787. Setiap negara bagian menunjuk jumlah anggota dewan elektoral yang sama dengan jumlah anggota DPR dan senator di Kongres. Ketika pemilih menggunakan hak suara, sesungguhnya mereka sedang memilih perwakilan negara bagian sebagai perpanjangan tangan untuk memilih seorang kandidat yang disenangi negara bagian tersebut.

Sebagian besar negara bagian menganut sistem “pemenang ambil semua”. Ambil contoh Donald Trump yang berhasil memenangkan suara di Florida. Itu berarti kandidat Partai Republik itu mengantongi 29 suara dari dewan elektoral asal negara bagian Florida.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini