Namun pendidikan “sipilnya” itu terganggu masa pendudukan Jepang pada 1942. Soeprijadi yang tak ingin tinggal diam, berangkat ke Tangerang untuk masuk Seinen Dojo (Barisan Pemuda, kemudian berubah PETA) dan lulus berpangkat Shodancho/Komandan Peleton setingkat letnan.
Sekembalinya ke Blitar setelah lulus, Soeprijadi ditempatkan di Daidan Blitar dengan memegang komando Peleton I dari Kompi III/Bantuan. Setelah berontak pada 14 Februari 1945, keberadaannya jadi tanda tanya besar sampai saat ini.
Kegegeran sempat muncul setelah seorang pria tua bernama Andaryoko, mengklaim bahwa dialah Soeprijadi yang sudah berganti nama jadi Andaryoko sejak 1950. Namun kejanggalan muncul setelah coba diidentifikasi saudara-saudara tiri Soeprijadi yang masih hidup.
“Waktu kasus Andaryoko yang mengaku-ngaku sebagai Soeprijadi, saudara-saudaranya Soeprijadi juga mengidentifikasi. Namun mereka heran, kok ‘Soeprijadi-nya’ (alias Andaryoko), tidak mengenal mereka,” tandas Febri.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.