Selama tujuh hari menjalankan misi, Pangeran Sultan terlibat dalam berbagai tugas. Banyak satelit ditempatkan ke orbitnya, termasuk satelit milik Arab Satellite Communications Organization, ARABSAT-1B. Satelit tersebut diluncurkan seiring pesawat ulang alik berlayar pada ketinggian 380 kilometer di atas bumi. Ia kemudian didorong hingga menempati orbitnya sekira 38 ribu kilometer di atas planet bumi.
Di antara penelitian yang ikut dijalani Pangeran Sultan dalam misi itu adalah mengobservasi bumi, percobaan ionisasi gas dan riset lainnya yang diminta oleh King Fahd University of Petroleum and Minerals. Beragam penelitian tersebut dimaksudkan mengumpulkan pengetahuan tentang partikel gas pada permukaan solid.
Pangeran Sultan juga merupakan orang pertama yang menjalankan ibadah salat dan membaca Alquran di gravitasi nol.
Misi Discovery STS-51G sukses. Pesawat dan para krunya mendarat kembali di bumi pada 24 Juni 1985, di Edwards Air Force Base di California.
Meski telah berselang tiga dekade, dampak perjalanan sang pangeran amat terasa bagi banyak orang di Arab Saudi. Bahkan, keberhasilan Pangeran Sultan menjadi inspirasi banyak anak muda Saudi tentang pentingnya sains, pengetahuan dan luar angkasa. Tak sedikit pula yang terinspirasi dalam memilih jalan kariernya.
Pangeran Sultan sendiri turut andil dalam mengubah persepsi Sheikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz tentang alam semesta. Mufti Besar Arab Saudi yang meninggal pada 1999 itu memiliki banyak pandangan kontroversial, termasuk pemikiran bahwa bumi adalah datar. Tetapi setelah berbicara dengan Pangeran Sultan, sang mufti yang mengalami kebutaan pada usia 40 tahun mengubah pandangannya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)