Share

Thailand Selatan Kembali Dilanda Serangan Bom, 2 Orang Tewas

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Kamis 20 April 2017 00:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 20 18 1671975 thailand-selatan-kembali-dilanda-serangan-bom-2-orang-tewas-q4dBPP0iMy.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PATTANI – Sejumlah serangan bom dan kelompok bersenjata kembali mengguncang wilayah selatan Thailand. Sedikitnya dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam serangan di wilayah yang terkenal dengan pemberontak di Negeri Gajah Putih tersebut.

Juru bicara senior militer Thailand, Kolonel Yutthanam Petchmuang mengatakan, serangan terjadi di 11 distrik di Provinsi Narathiwat, Pattani, dan Songkhla pada Rabu 19 April 2017 malam waktu setempat. Ketiga provinsi tersebut berada dekat perbatasan dengan Malaysia.

β€œIni pekerjaan orang-orang yang ingin menyebabkan kekacauan. Tujuan mereka sepertinya bukan untuk membunuh, tetapi lebih kepada menyebabkan ketidakteraturan,” ujar Kolonel Yutthanam Petchmuang, seperti dimuat Channel News Asia, Kamis (20/4/2017).

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Wilayah selatan Thailand menjadi saksi pemberontakan berdarah kelompok separatis yang sudah menewaskan sedikitnya 6.500 orang sejak meletus pada 2004. Serangan pada Rabu malam tersebut menargetkan aparat keamanan, termasuk polisi dan tentara, serta warga sipil.

Negosiasi antara pemerintah Thailand dan perwakilan kelompok pemberontak sebenarnya sudah mulai dirintis pada 2013 di masa warga sipil berkuasa, yakni Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra.

Namun, negosiasi menjadi mandek ketika junta militer mengudeta Yingluck dan mengambil alih kekuasaan pada 2014. Awal April 2017, junta militer Thailand bahkan menolak mentah-mentah syarat untuk mengikuti perundingan damai yang diajukan oleh kelompok pemberontak di selatan.

Serangkaian teror juga melanda wilayah selatan Thailand pada Agustus 2016. Dalam 24 jam, setidaknya terjadi 11 ledakan di wilayah yang terkenal dengan wisatanya itu. Serangan teror tersebut diyakini berkaitan dengan hasil referendum konstitusi yang diselenggarakan pada pertengahan Agustus 2016.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini