Share

NEWS STORY: Petarung Pantura Kaswinah Mengenang MA Sentot, Komandan Pasukan Setan Kebal Peluru

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 07 Mei 2017 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 06 525 1684861 news-story-petarung-pantura-kaswinah-mengenang-ma-sentot-komandan-pasukan-setan-kebal-peluru-oF44l1fcWg.jpg Prada (Purn) Kaswinah, veteran Divisi Siliwangi asal Indramayu eks anggota Pasukan Setan pimpinan MA Sentot (Foto: Randy Wirayudha)

INDRAMAYU – Kharismatik dan dihormati. Sosok Mayor MA Sentot sebagai salah satu perwira Divisi Siliwangi (Batalyon A) asal Indramayu, dikenang demikian oleh salah satu mantan anak buahnya yang tersisa, Prada (Purn) Kaswinah.

“Kalem Pak Sentot mah orangnya. Tapi kalau sudah jengkel sama orang atau anak buah, dihantam pasti tumbang. Orangnya enggak galak, tapi tegasnya begitu,” cetus Kaswinah ditemui Okezone dan rekan komunitas Front Bekassi Beny Rusmawan di kediamannya di Desa Bunder, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu.

Kaswinah mengisahkan bahwa dia sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun. Tokoh LVRI Kabupaten Indramayu itu juga terus ikut pemimpin “Pasukan Setan” Batalyon A Divisi IV (kini Kodam III) Siliwangi hingga diberhentikan pada 1949.

Seperti dikisahkan sebelumnya, catatan pertempuran yang paling diingat Kaswinah adalah ketika Pasukan Setan menghantam Belanda di Jembatan Bankir, Lohbener, Indramayu, medio November 1947. (Baca: NEWS STORY: Kisah Petarung Pantura Kaswinah, dari Kempeitai hingga Pasukan Setan)

“Setelah penyerangan di Jembatan Bankir itu, Belanda nyari-nyari kita sampai dekat markas di dekat pantai. Tiga hari tiga malam pesawat-pesawat Belanda terbang di atas kita. Pas tentara Belanda patroli ke hutan, kita disuruh Pak Sentot keluar ke laut dengan perahu nyamar jadi nelayan,” tambah veteran berusia 93 tahun itu.

“Selang berapa bulan, ada perintah untuk hijrah (Siliwangi pindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Yogyakarta akibat Perjanjian Renville 17 Januari 1948). Pasukan dan Pak Sentot ikut hijrah, tapi akhirnya saya disuruh pulang,” lanjutnya berkisah.

 

Kaswinah menceritakan, dia diperintahkan untuk tidak ikut hijrah oleh MA Sentot. Dia pun nurut dan akhirnya tetap tinggal bersama 5 rekan lainnya di Indramayu. Bukan karena ada tugas khusus, melainkan demi keselamatan keluarganya.

“Sudah dari kecil kenal Pak Sentot, termasuk keluarga saya karena memang dulu rumah kita dekat, tetanggaan lah. Pas ada perintah hijrah, saya dan teman-teman dari Subang sudah sampai Kuningan, disusul anak buah Pak Sentot lainnya, disuruh pulang jangan ikut hijrah,” ungkap Kaswinah.

“Disuruh Pak Sentot (via penyampai pesan), disuruh nemenin bapak saya. Bapak saya kan kepala desa. Katanya kalau Belanda masuk, nanti para kepala desa bakal dituduh pro-Belanda, takut dibunuh sama teman-teman (pejuang) sendiri. Akhirnya saya pulang berenam yang asli Indramayu juga,” sambungnya.

Namun pada 1949, Kaswinah ‘reunian’ lagi dengan MA Sentot dan teman-temannya pasca-long march. Siliwangi kembali ke Jawa Barat setelah Belanda melancarkan Agresi II 19 Desember 1948.

“Tahun 1949 itu Pak Sentot balik lagi long march ke Indramayu. Kita konsolidasi lagi, tapi lawannya bukan lagi ketemu Belanda, tapi juga DI (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia),” imbuh Kaswinah.

Saat beberapa pertempuran dengan DI, Kaswinah mengaku melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa komandan legendarisnya itu ternyata kebal peluru. Tidak hanya kebal ditembak jarak jauh, tapi juga jarak dekat.

“Kalau perang, Pak Sentot di tengah-tengah. Kasih arahan maju (sisi) kanan, maju (sisi) kiri udah kayak main (sepak)bola aja. Kalau (MA Sentot) kena tembak enggak apa-apa. Kalau diberondong (senapan mesin ringan) Bren, malah pada jatuh pelurunya,” kenang Kaswinah.

“Sementara kita anak buah yang lain tiarap, dia mah berdiri terus. Perintah maju sini, maju sana, kayak orang ngangon bebek. Boro-boro ditembak dari jauh, ditembak dekat dari jendela pakai Bren sama DI aja enggak apa-apa. Pelurunya pada ngampar di bawah dan cuma diketawain aja sama Pak Sentot,” tuturnya.

Selepas pengakuan kedaulatan Belanda terhadap RI pada 27 Desember 1949, Kaswinah diberhentikan. Bukan karena indisipliner atau dipecat tidak hormat, tapi Kaswinah diberhentikan oleh Sentot agar tetap bisa melindungi keluarganya di kampung.

“Tahun 1949 ketika sudah dianggap aman (tidak lagi perang dengan Belanda), saya dibilangin untuk tidak usah ikut tentara lagi. Dibilangin: ‘Kamu temenin bapak kamu jadi kepala desa’. Terus dikasih surat pemberhentian. Teman-teman yang lain dan masih pengin jadi tentara, dipindah ke Banten,” tandas Kaswinah.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini