INDRAMAYU – Kharismatik dan dihormati. Sosok Mayor MA Sentot sebagai salah satu perwira Divisi Siliwangi (Batalyon A) asal Indramayu, dikenang demikian oleh salah satu mantan anak buahnya yang tersisa, Prada (Purn) Kaswinah.
“Kalem Pak Sentot mah orangnya. Tapi kalau sudah jengkel sama orang atau anak buah, dihantam pasti tumbang. Orangnya enggak galak, tapi tegasnya begitu,” cetus Kaswinah ditemui Okezone dan rekan komunitas Front Bekassi Beny Rusmawan di kediamannya di Desa Bunder, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu.
Kaswinah mengisahkan bahwa dia sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun. Tokoh LVRI Kabupaten Indramayu itu juga terus ikut pemimpin “Pasukan Setan” Batalyon A Divisi IV (kini Kodam III) Siliwangi hingga diberhentikan pada 1949.
Seperti dikisahkan sebelumnya, catatan pertempuran yang paling diingat Kaswinah adalah ketika Pasukan Setan menghantam Belanda di Jembatan Bankir, Lohbener, Indramayu, medio November 1947. (Baca: NEWS STORY: Kisah Petarung Pantura Kaswinah, dari Kempeitai hingga Pasukan Setan)
“Setelah penyerangan di Jembatan Bankir itu, Belanda nyari-nyari kita sampai dekat markas di dekat pantai. Tiga hari tiga malam pesawat-pesawat Belanda terbang di atas kita. Pas tentara Belanda patroli ke hutan, kita disuruh Pak Sentot keluar ke laut dengan perahu nyamar jadi nelayan,” tambah veteran berusia 93 tahun itu.