Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KISAH: Teobert Maler, Profesor Asal Jerman yang Menjadi Penjelajah Situs Peninggalan Suku Maya

Rufki Ade Vinanda , Jurnalis-Minggu, 21 Mei 2017 |08:00 WIB
KISAH: Teobert Maler, Profesor Asal Jerman yang Menjadi Penjelajah Situs Peninggalan Suku Maya
Teoberto Maler dan Situs peninggalan Suku Maya. (Foto: The Vintagenews)
A
A
A

Pada 1898, Maler mulai menerbitkan laporannya melalui Peabody Institute of Harvard University. Laporan ini menghasilkan serangkaian buku penting yang diterbitkan oleh Harvard. Sayangnya hubungan pihak Harvard dan Maler menjadi tegang karena perbedaan pendapat mengenai apa yang harus dipublikasikan dan apa yang seharusnya tidak.

Penulis memerlukan laporan rinci tentang karyanya yang akan dipublikasikan sementara editor Peabody memasukkan lebih sedikit darinya. Komunikasi mereka juga menjadi sulit karena ketika melakuka ekspedisi ke dalam hutam, Maler kerap sulit dihubungi. Institut Peabody mengakhiri kesepakatan mereka dengan Maler pada 1909. Namun, bukunya yang tak lengkap ini tetap diterbitkan dan dibutuhkan waktu sampai 1912 untuk menyelesaikan penerbitan materi Maler itu. Buku-buku Maler ini menjadi referensi penting dalam studi tentang Suku Maya hingga kini.

 

(Foto: The Vintagenews)

Kemudian pada 1905, Maler pensiun dari ekspedisi hutan ke rumahnya di Merida, Yucatan. Lima tahun kemudian atau pada 1910, ia melakukan perjalanan kembali ke Eropa dengan harapan institusi-institusi itu bersedia menerbitkan laporannya, namun keberhasilan terbesarnya adalah menjual foto-fotonya ke Bibliotheque Nationale di Paris.

Di tahun-tahun berikutnya, Maler diketahui mengalami depresi karena kegagalannya untuk berbagi pengetahuan yang disebut sebagai misanthrope. Meskipun ia hidup secara sederhana dari penjualan foto-fotonya ke arkeolog dan turis, situasi keuangannya agak tidak stabil karena membuat beberapa investasi buruk di masa lalu.

Maler di masa pensiunnya juga menghabiskan waktu untuk berbagi pengetahuan tentang arsitektur dan seni Maya di sekolah seni rupa Merida sampai kematiannya pada 1917 di usia 75 tahun. Banyak karyanya yang tersisa kemudian diterbitkan pada 1930an dan lebih banyak pada 1970-an serta 1990-an. (rav)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement