Dengan meninggalnya Constanza, Pedro akhirnya dapat menikahi pujaan hatinya. Ayahnya, Raja Afonso IV mencoba menyodorkan nama-nama putri yang menurutnya layak dinikahi putranya. Akan tetapi, semua nama itu ditolak oleh Pedro.
Ines akhirnya kembali ke istana dan hubungan asmara sejoli itu menjadi jauh lebih mesra. Pedro dan Ines memadu kasih dan dikaruniai empat anak, yakni Afonso, Beatriz, Joao dan Diniz.
Namun hubungan itu masih tidak mendapat restu dari Raja Afonso. Dia yakin bahwa hubungan mereka hanya akan mengancam hubungan antara Portugal degan Castilla dan perang pun akan pecah antara kedua kerajaan tersebut. Tiga bangsawan Portugal lalu menyarankan Sang Raja untuk membunuh Ines guna mencegah perang.
Pada 7 Januari 1355, saat Dom Pedro tidak berada di rumahnya, Raja Afonso IV mengirim tiga orang untuk membunuh Ines. Mereka menemukan Ines bersama salah seorang anaknya dan membunuh dia di depan anaknya sendiri.
Ketika Pedro kembali dan mengetahui ayahnya berada di belakang kematian kekasihnya, dia menjadi murka. Pedro kemudian mengumumkan perang melawan Sang Raja dan membawa Portugal ke dalam kancah perang saudara.
Saat Raja Afonso IV meninggal dunia pada 1357, Pedro mewarisi takhta dan memulai pembalasan dendamnya. Perintah pertamanya sebagai raja adalah menemukan dan membawa pembunuh Ines de Castro ke hadapannya dan membuat sarkofagus marmer putih yang indah untuk mendiang kekasihnya.