nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kacau! Otoritas China Larang Umat Muslim Uighur Berpuasa

Silviana Dharma, Jurnalis · Selasa 06 Juni 2017 18:59 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 06 06 18 1708975 kacau-otoritas-china-larang-umat-muslim-uighur-berpuasa-l2dFIjV4ao.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

BEIJING – Pemerintah China diberitakan melarang umat Islam di Xinjiang, yang mayoritas merupakan suku Uighur, untuk berpuasa. 

Hal tersebut melanjutkan hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah dan warga Muslim. Pemerintah memandang Muslim Uighur sebagai teroris, dan sebaliknya, Uighur juga terus memberontak dan menyerukan upaya separatis.

Berdasarkan Kongres Uighur Sedunia (WUC), pejabat di Xinjiang mencoba menghalang-halangi umat Islam setempat untuk menjalankan bulan suci ini dengan damai. Pejabat itu memerintahkan semua restoran untuk tetap buka selama Ramadan.

Baca: Pemerintah China Larang Muslim Uighur Berpuasa

Melansir Independent, Selasa (6/6/2017), peringatan serupa juga diserukan oleh Biro Industri dan Perdagangan Aksi di Xinjiang. WUC mengatakan, biro itu akan meningkatkan pengawasan di Xinjiang selama Ramadan atas dalil menjaga stabilitas keamanan nasional.

Bahkan mereka telah memaksa para aktivis untuk melalukan pergantian penjagaan, maraton selama 24 jam sehari. Pengawasan dilakukan di gedung-gedung publik, sehingga Muslim Uighur semakin sulit untuk berpuasa.

Secara terpisah, seorang pelajar di Hetian mengaku selalu disuruh berkumpul untuk menonton film tentang komunisme setiap Jumat. Padahal itu adalah hari untuk salat berjamaah.

Selain itu, mereka diwajibkan untuk belajar kelompok dan melakukan kegiatan olahraga demi memperkaya kehidupan sosial di masa libur musim panas.Padahal olahraga adalah kegiatan yang paling melelahkan dan dihindari oleh orang yang sedang berpuasa.

Pengakuan lain tentang sulitnya berpuasa di China datang dari seorang pejabat Han yang bekerja di Zawa. Dia menuturkan, pemerintah melarang pegawai negeri berpuasa. Jika ketahuan tetap puasa, mereka akan mendapat hukuman.

WUC menyoroti larangan ini tampaknya hanya berlaku di Xinjiang. Sementara umat Islam di kawasan lain mendapat kebebasan untuk menjalani ibadah puasanya.

Sebelum ini, pemerintah Negeri Panda juga mendiskriminasi pemakaian burqa dan penumbuhan jenggot di Xinjiang. Bahkan, orang Xinjiang dilarang memberikan nama-nama Islam kepada bayi mereka. Nama yang dilarang, meliputi Muhammad dan Jihad.

Awal bulan ini, beredar kabar bahwa polisi setempat sedang dalam proses membeli sebuah alat pengumpulan DNA seharga USD8,7 juta. Diyakini alat itu akan digunakan untuk mendata warga Muslim Uighur. Kebijakan itu sudah diserukan sejak tahun lalu, yakni agar umat Islam di Xinjiang menyerahkan contoh DNA, berupa sidik jari dan suara, setiap mengajukan paspor atau mau berpergian ke luar negeri.

(dnb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini