Image

OKEZONE STORY: Lakukan Pembunuhan Super Sadis, Kisah Kekejaman Papin Bersaudara Masih Hantui Prancis

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Sabtu, 12 Agustus 2017 - 08:00 WIB
Christine dan Lea Papin. (Foto: The Vintage News) Christine dan Lea Papin. (Foto: The Vintage News)

SEBUAH kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sepasang saudara di Prancis masih meninggalkan ketakutan bagi warga Negeri Mode. Kasus pembunuhan tersebut diketahui dilakukan oleh sepasang saudara perempuan bernama Christine dan Lea Papin. Bahkan di masa kini, pembunuhan yang mereka lakukan kerap diadaptasi menjadi sebuah film atau pertunjukan teater.

Christine dan Lea Papin menghabiskan masa muda mereka di desa-desa sekitar Le Mans, Prancis Barat. Mereka diketahui memiliki jarak usia 7 tahun dan memiliki seorang kakak perempuan lain bernama Emilia. Putri tertua keluarga Papin itu diketahui memutuskan untuk menjadi biarawati setelah diduga diperkosa oleh ayah kandungnya.

Christine dan Lea tumbuh dalam keluarga disfungsional. Mereka kerap menyaksikan kekerasan dan berbagai bentuk penganiayaan. Pernikahan kedua orangtua mereka sangat berantakan dan kondisi itulah yang kemudian juga mempengaruhi mental Christine dan Lea. Keduanya sempat menjalani terapi mental akibat trauma pasca-perpisahan orangtua mereka.

(Foto: The Vintage News)

Mereka tumbuh dengan tak terpisahkan, meski keduanya terlihat jarang saling bicara. Hal ini memberi kesan mengerikan karena seolah mereka bisa berkomunikasi lewat batin. Setelah bebas dari terapi mental yang mereka jalani, Christine dan Lea kemudian bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keduanya bersikeras untuk bekerja bersama dan tak mau dipisahkan.

Pada 1926, mereka menjadi pelayan di rumah seorang pria yang merupakan pensiunan pengacara di Kota Le Mans, Rene Lancelin. Di rumah itu, Rene tinggal bersama istri dan seorang anak perempuannya. Sementara anaknya yang lain telah menikah dan hidup terpisah.

Di rumah Rene-lah kemudian kejahatan mengerikan yang menghantui Prancs terjadi. Papin bersaudara saat itu diwajibkan bekerja selama 14 jam sehari dan hanya libur setengah hari saja ketika akhir pekan tiba. Hal ini cukup umum bagi pembantu di masa itu. Baik Christine dan Lea, keduanya nampak tak keberatan dengan kewajiban tersebut.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming