Image

OKEZONE STORY: Lakukan Pembunuhan Super Sadis, Kisah Kekejaman Papin Bersaudara Masih Hantui Prancis

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Sabtu 12 Agustus 2017 08:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 12 18 1754569 okezone-story-lakukan-pembunuhan-super-sadis-kisah-kekejaman-papin-bersaudara-masih-hantui-prancis-5vRI1a4UHS.jpg Christine dan Lea Papin. (Foto: The Vintage News)

SEBUAH kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sepasang saudara di Prancis masih meninggalkan ketakutan bagi warga Negeri Mode. Kasus pembunuhan tersebut diketahui dilakukan oleh sepasang saudara perempuan bernama Christine dan Lea Papin. Bahkan di masa kini, pembunuhan yang mereka lakukan kerap diadaptasi menjadi sebuah film atau pertunjukan teater.

Christine dan Lea Papin menghabiskan masa muda mereka di desa-desa sekitar Le Mans, Prancis Barat. Mereka diketahui memiliki jarak usia 7 tahun dan memiliki seorang kakak perempuan lain bernama Emilia. Putri tertua keluarga Papin itu diketahui memutuskan untuk menjadi biarawati setelah diduga diperkosa oleh ayah kandungnya.

Christine dan Lea tumbuh dalam keluarga disfungsional. Mereka kerap menyaksikan kekerasan dan berbagai bentuk penganiayaan. Pernikahan kedua orangtua mereka sangat berantakan dan kondisi itulah yang kemudian juga mempengaruhi mental Christine dan Lea. Keduanya sempat menjalani terapi mental akibat trauma pasca-perpisahan orangtua mereka.

(Foto: The Vintage News)

Mereka tumbuh dengan tak terpisahkan, meski keduanya terlihat jarang saling bicara. Hal ini memberi kesan mengerikan karena seolah mereka bisa berkomunikasi lewat batin. Setelah bebas dari terapi mental yang mereka jalani, Christine dan Lea kemudian bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keduanya bersikeras untuk bekerja bersama dan tak mau dipisahkan.

Pada 1926, mereka menjadi pelayan di rumah seorang pria yang merupakan pensiunan pengacara di Kota Le Mans, Rene Lancelin. Di rumah itu, Rene tinggal bersama istri dan seorang anak perempuannya. Sementara anaknya yang lain telah menikah dan hidup terpisah.

Di rumah Rene-lah kemudian kejahatan mengerikan yang menghantui Prancs terjadi. Papin bersaudara saat itu diwajibkan bekerja selama 14 jam sehari dan hanya libur setengah hari saja ketika akhir pekan tiba. Hal ini cukup umum bagi pembantu di masa itu. Baik Christine dan Lea, keduanya nampak tak keberatan dengan kewajiban tersebut.

Mereka bekerja dengan kerendahan hati dan rasa hormat. Christine dan Lea juga tak menunjukkan minat terhadap dunia luar dan hanya menghabiskan waktu berdua. Tahun demi tahun berlalu tanpa ada satu pun insiden. Tetapi tepat pada 2 Februari 1933, sebuah insiden mengerikan mengejutkan Rene, sang tuan rumah.

Malam itu seharusnya Rene makan malam bersama dengan sang istri dan teman-teman di kediamannya. Sayangnya ketika ia pulang, Rene menemukan seluruh lampu rumahnya padam. Ia hanya melihat secercah cahaya lilin yang nampak dari ruang tidur Papin bersaudara. Selain itu, seluruh pintu rumah juga dalam kondisi terkunci.

Rene kemudian pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan agar bisa masuk ke rumahnya. Namun, setelah pintu terbuka, Rene menemukan anak dan istrinya telah tewas. Mereka dibunuh dengan cara paling brutal yang pernah ada. Wajah mereka hancur dan bahkan bola mata orang-orang yang Rene cintai itu dicungkil dan tak berada di tempatnya.

Sementara itu, Christine dan Lea ditemukan di dalam kamar mereka dalam kondisi telanjang bulat. Tanpa ragu, keduanya langsung mengaku sebagai pelaku pembunuhan dengan sangat tenang dan tanpa sedikit pun raut penyesalan di wajah mereka. Segera polisi mengumpulkan bukti alat pembunuhan berupa pisau dapur, palu dan panci timah.

Christine dan Lea kemudian dipenjara secara terpisah. Saat itu, Christine menjadi depresi dan tertekan karena terpisah dengan saudaranya. Hingga pada suatu saat, ia diizinkan untuk menemui Lea. Christine pun langsung melompat ke pelukan Lea dan dari percakapan keduanya tersirat jika sepasang saudara kandung itu menjalin hubungan asmara terlarang.

Beberapa bulan kemudian, kegilaan Christine semakin parah. Dia mencoba mencungkil matanya sendiri. Padahal saat itu persidangan kasusnya akan segera dimulai. Kala itu, seluruh warga Prancis menaruh perhatian terhadap kasus Papin bersaudara. Bahkan kasus ini menarik perhatian dari para kaum terpelajar yang mengkaitkan perilaku Panpin bersaudara dengan aksi pemberontakan para kaum budak.

Kerumunan besar orang berkumpul di ruang sidang pada September 1933, menunggu putusan bagi Papin bersaudara. Hakim menyimpulkan bahwa Christine adalah dalang di balik pembunuhan tersebut. Ia diketahui terlibat perseteruan kecil antara istri Rene, Madame Lancelin sebelum membunuh. Pengadilan juga menyimpulkan bahwa Lea sang adik hanyalah perpanjangan tangan kakaknya.

Meski kesehatan mental mereka turut menjadi pertimbangan hakim. Pengadilan memvonis Christine dengan hukuman mati. Sementara Lea mendapat keringanan karena hanya berperan sebagai kaki tangan kakaknya. Namun, tak lama kemudian hukuman Christine diubah menjadi penjara seumur hidup.

(Foto: The Vintage News)

Christine kembali diterpa depresi dan mulai menolak untuk makan. Ia diketahui tak bisa menerima perpisahan dengan adiknya. Christine Papin lalu meninggal pada 1937 dan Lea bebas dari penjara pada 1941. Lea kemudian tinggal bersama ibunya secara terasing. Berdasarkan beberapa sumber, Lea sempat bekerja di sebuah hotel di Nantes dengan menggunakan identitas palsu.

Lea diyakini meninggal pada 1982, namun hal ini juga belum bisa dikonfirmasi. Pada tahun 2000, pembuat film dokumenter bernama Claude Ventura mengklaim bahwa dia masih hidup. Hingga saat ini keberadaan Lea masih menjadi misteri. Kisah keduanya diangkat dalam film "In Search of the Papin Sisters," yang disutradarai oleh Ventura, di mana Lea digambarkan menjadi perempuan lumpuh karena stroke di hari tuanya. (rav)

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini