Anjing dianggap sebagai sosok dewa. (Foto: SCMP)
Seorang dukun atau ketua adat akan memimpin pawai dan peserta laiinya akan saling melemparkan lumpur sebagai isyarat simbolis untuk perdamaian, kesehatan serta kemakmuran. Perayaan menjadi semakin ramai karena warga desa akan berkumpul di jalan-jalan untuk menyaksikan parade. Mereka juga berdoa agar panen tahun ini akan berjalan baik.
Sayangya tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad ini mendapat kritik dari beberapa pihak karena dianggap merupakan bentuk kekerasan kepada hewan. Meski nampak lucu dengan pakaian dan topi manusia, nyatanya anjing diikat dengan rantai agar diam dan tak pergi dari tandu. Yang lain menyamakan perayaan ini dengan Festival Yulin yakni festival menyantap daging anjing dan kucing secara masal.
Baca Juga: Festival Daging Anjing Yulin Masih Terus Diadakan
(Rufki Ade Vinanda)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.