Dikatakan Mahmud, dalam laporan yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga dari pantuan satelit, di wilayah Rakhine, memang terlihat adanya pipa-pipa minyak, khususnya berada di dekat pemukiman etnis Rohingya. Ia menduga Myanmar melakukan serangkaian aksi kekerasan untuk mengamankan pipa migas tersebut.
“Misalnya kemarin, di background minoritas Rohingya itu di sepanjang mereka menyelamatkan diri, terlihat pipa. Kemudian secara spesifik kenapa makin menguat di tahun 2016 dan 2017, karena ada beberapa blok migas yang ekspired kontraknya di 2017. Dan ada blok baru benar-benar di Rakhine dan ditawarkan tahun ini,” jelas Mahmud.
(Baca juga: Sepakat! Gubernur Jateng Pastikan Aksi Solidaritas Rohingya Tak Digelar di Candi Borobudur)
Dikatakan Mahmud, konflik antara junta militer dengan etnis Rohingya juga pernah terjadi di tahun 2013. Pada tahun yang sama pula, diketahui eksplorasi minyak di Myanmar di buka. Selain itu pipa minyak dari Myanmar juga mengalir sampai ke Cina.
Konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar kembali terjadi sejak akhir Agustus lalu. Setidaknya 100 ribu lebih masyarakat etnis tersebut terpaksa menyelamatkan diri ke Bangladesh dan 400 orang tewas akibat serangan dari junta militer Myanmar.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.