"> "> " data-dynamic="true">
nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isu Komunisme, Panglima TNI: Ibarat Makan Garam, Bisa Dirasakan Namun Tak Bisa Dilihat

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 19 September 2017 21:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 09 19 512 1779188 isu-komunisme-panglima-tni-ibarat-makan-garam-bisa-dirasakan-namun-tak-bisa-dilihat-STBUMXZwWT.jpg Panglima TNI di Makam Jenderal Soeharto. (Bramantyo/Okezone)

KARANGANYAR - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan bisa merasakan paham komunis di Indonesia itu masih ada.

Gatot mengibaratkan paham komunis saat itu seperti garam yang ada di dalam masakan. Di mana, keberadaannya bisa dirasakan. Namun bentuk fisik, seperti dalam bentuk gerakan tidak tampak.

"Ibaratnya makan garam, saya bisa merasakan namun tidak bisa melihatnya," papar Gatot usai ziarah ke makam almarhum mantan Presiden Soeharto di Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (19/9/2017).

Oleh karena itu, pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajarannya agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan tetap terus melakukan pendeteksian dini terhadap paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila serta mengancam NKRI.

Terkait perintah pemutaran film G30S/PKI, Gatot mengaku bukan untuk menyudutkan pihak manapun. Pemutaran film ini bertujuan agar semua generasi muda mengetahui jika bangsa Indonesia punya sejarah masa lalu yang kelam.

Pasalnya, meski fakta sejarah kelam itu hanya satu, namun penulisnya yang berbeda-beda. Sehingga pihaknya sangat khawatir akan adanya penyimpangan dari fakta sesungguhnya.

[Baca Juga: LBH Diskusi Sejarah Tragedi 65, JK: Silakan Saja kalau Bicara Studi Kasus dan Keilmuan]

Sehingga saat Presiden Jokowi ingin film serupa dibuat ulang dalam kondisi saat ini, Gatot pun sangat mendukungnya. "Tentu saja berdasarkan sejarah yang ada," ujar Gatot.

[Baca Juga: Kantornya Sempat Dikepung Massa Antikomunis, YLBHI: Pelaku Takut Pengungkapan Sejarah 1965]

Sementara itu, terkait adanya pengepungan LBH Jakarta, Gatot meminta agar konfirmasi diarahkan ke kepolisian.

"TNI diam, tetapi tahu. Semua itu pasti ada sebabnya Jakarta," pungkas Gatot. (sym)

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini