Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Sejarah Letusan dan Kepercayaan Masyarakat Bali tentang Gunung Agung

Fahmy Fotaleno , Jurnalis-Jum'at, 29 September 2017 |06:02 WIB
Mengenal Sejarah Letusan dan Kepercayaan Masyarakat Bali tentang Gunung Agung
Gunung Agung pada tahun 1989 (Foto: Wikipedia)
A
A
A

Mitos lain menyebut, para dewa menganggap bahwa kondisi Bali tidak cukup stabil sehingga mereka meletakkan Gunung Agung sebagai pancangnya. Banyak warga Bali pun menganggap bahwa gunung adalah pusar Bumi.

Salah seorang tokoh masyarakat Bali yang juga merupakan Anggota DPD RI, IGede Pasek Suardika menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali secara kosmologis dan religi, Gunung Agung merupakan satu dari beberapa gunung yang dianggap memiliki peran yang sangat penting.

"In karena banyaknya tempat suci di kawasan (Gunung Agung) tersebut," ujarnya kepada Okezone.

Selain itu, masyarakat di sana percaya bahwa gunung dan laut adalah sumber energi. Baik energi kepentingan hidup duniawi maupun energi kepentingan hidup spiritual.

"Hampir di semua tempat yang khusus pasti ada ritual. Baik itu Pujawali, upacara Mulang Pekelem, dan lain-lain," jelasnya.

Letusan-letusan

Letusan gunung Agung mulai muncul pada tahun 1808. Ketika itu letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik terjadi. Aktivitas gunung ini berlanjut pada tahun 1821, namun tidak ada catatan mengenai hal tersebut. Pada tahun 1843, Gunung Agung meletus kembali yang didahului dengan sejumlah gempa bumi.

Letusan ini juga menghasilkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung. Sejak 120 tahun tersebut, baru pada tahun 1963 Gunung Agung meletus kembali dan menghasilkan akibat yang sangat merusak.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement