nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Adakan Pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB, Kofi Annan Beri Rincian soal Kondisi Terkini Muslim Rohingya

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Kamis 12 Oktober 2017 12:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 12 18 1793918 adakan-pertemuan-dengan-dewan-keamanan-pbb-kofi-annan-beri-rincian-soal-kondisi-terkini-muslim-rohingya-dppFMGEFDy.jpg Kofi Annan. (Foto: Reuters)

YANGON - Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan, diperkirakan akan memberikan rincian laporan tentang Muslim Rohingya di Myanmar dalam sebuah pertemuan informal dengan Dewan Keamanan PBB pada Jumat 13 Oktober.

Menurut sebuah laporan, Jeffrey Feltman, pejabat urusan politik PBB, juga akan berkunjung ke Myanmar pada Jumat selama empat hari untuk merundingkan krisis tersebut.

"Feltman akan membuka pembicaraan dengan Myanmar untuk menangani masalah mendesak ini," kata seorang pejabat PBB.

Pada akhir Agustus, Annan mempresentasikan laporan akhir dari komisi penasihat khusus di Rakhine. Kofi Annan, yang memimpin komisi itu, melakukan hal tersebut atas permintaan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.

BACA JUGA: Wah! 11 Ribu Pengungsi Rohingya Banjiri Bangladesh Tiap Harinya

Laporan Annan berisikan materi tentang permintaan komisi khusus tersebut agar pihak berwenang Myanmar segera melakukan tindakan mengatasi orang Rohingya yang dianggap sebagai orang-orang yang tak berkewarganegaraan dan telah menghadapi diskriminasi selama bertahun-tahun oleh mayoritas Buddha di negara tersebut.

Sekadar diketahui, pada Rabu 11 Oktober, pihak PBB mengatakan junta militer Myanmar secara brutal telah mengusir setengah juta Muslim Rohingya dari Rakhine utara dengan membakar rumah, tanaman, dan desa mereka untuk mencegah mereka kembali.

BACA JUGA: Tegas! Militan Rohingya Bantah Punya Hubungan dengan Kelompok Asing

Jyoti Sanghera, kepala hak asasi manusia Asia dan Pasifik, meminta Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan. Sanghera mengaku khawatir, jika pengungsi Rohingya yang diketahui tidak memiliki kewarganegaraan tersebut kembali dari Bangladesh, maka mereka akan diasingkan.

"Jika desa-desa hancur total dan kemungkinan penghidupan telah hancur, yang kita takuti adalah mereka dipenjara atau ditahan di kamp-kamp," katanya, dilansir dari Asia Correspondent, Kamis (12/10/2017).

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad al-Hussein mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan tersebut tampaknya merupakan taktik sinis untuk memindahkan secara paksa sejumlah besar orang Rohingya agar tak kembali.

(pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini