"Tidak heran jika mereka benar-benar merasa tempat ini sebagai neraka di bumi," ujar Simon Ingram, pejabat UNICEF.
Sebagian besar dari mereka datang bersama orangtuanya karena melarikan diri dari kekerasan dan kelaparan yang terjadi di Myanmar. Berdasarkan laporan ‘Outcast and Desperate’, kebanyakan anak Rohingya masih mengalami trauma akibat kekejaman yang mereka saksikan.
"Trauma ini tidak akan menjadi jangka pendek, tidak akan berakhir dalam waktu dekat," kata Ingram yang juga menulis laporan tersebut.
BACA JUGA: Sedih... Hampir 14 Ribu Anak-Anak Rohingya di Bangladesh Kehilangan Orangtuanya
Dengan kondisi pengungsian yang kumuh, satu dari lima anak Rohingya yang berusia di bawah lima tahun diperkirakan mengalami kekurangan gizi akut. Mereka, kata Simon, sangat membutuhkan penanganan medis.
"Ada risiko sangat tinggi wabah penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare dan kolera yang bisa terjadi dalam jangka panjang," tambahnya.