nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diprotes Tiongkok, Filipina Tarik Bahan Bangunan dari Pulau di Dekat Laut China Selatan

Rufki Ade Vinanda, Okezone · Rabu 08 November 2017 14:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 08 18 1810555 diprotes-tiongkok-filipina-tarik-bahan-bangunan-dari-pulau-di-dekat-laut-china-selatan-LtUg3CmuBg.jpg Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. (Foto: Reuters)

MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte memerintahkan penarikan fondasi bangunan dan bahan-bahannya seperti pasir di sebuah pulau yang dekat dengan wilayah Laut China Selatan. Perintah penarikan tersebut, diambil Duterte setelah ia menerima keluhan dan protes dari China.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana mengumumkan perintah Duterte tersebut di sela-sela kunjungannya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Vietnam. Sebagaimana diketahui, tentara Filipina membangun sebuah infrastruktur sekira 4 kilometer (km) dari Pulau Thitu sejak Agustus lalu.

Baca Juga: Filipina Klaim Tiongkok Setuju Tidak Akan Bangun Fasilitas Baru di Laut China Selatan

Infrastruktur tersebut dibangun sebagai kamp peristirahatan bagi nelayan Filipina. Hal ini kemudian diketahui oleh patroli laut China dan mereka menuntut agar Filipina segera menghentikan kegiatan pembangunan tersebut.

"Mereka (China), memprotes kami tentang pembangunan infrastruktur tersebut," ujar Menlu Lorenzana sebagaimana disitat dari Strait Times, Rabu (8/11/2017).

Lorenzana menambahkan, Duterte juga telah menginstruksikan pasukannya untuk memindahkan fondasi kamp tersebut. Keputusan ini juga diambil setelah China dan Filipina sama-sama sepakat untuk tidak menempati lahan yang rawan sengketa di dekat Laut China Selatan.

Selain itu, Lorenzana menegaskan bahwa para pejabat China dan Filipina sepakat menyelesaikan mekanisme perselisihan sendiri tanpa membawa ke pihak yang lebih tinggi.

Baca Juga: Pejabat Filipina dan China Bertemu Bahas Sengketa Laut China Selatan

"Jika harus membawa hal-hal seperti ini ke pihak yang lebih tinggi maka ini akan memakan waktu berhari-hari. Sementara itu, sesuatu bisa terjadi, salah perhitungan atau miskomunikasi," imbuhnya

Pada Agustus lalu, China dan Filipina menyetujui sebuah kerangka kerja kode etik untuk mengelola perselisihan di Laut China Selatan. Kerangka kerja kode etik itu juga akan kembali dibahas oleh para pemimpin ASEAN yang menggelar pertemuan di Manila pekan depan.

Salah satu tujuan pembahasan kode etik itu adalah untuk mencegah ketegangan antarnegara-negara yang terlibat konflik Laut China Selatan. Sementara itu, beberapa pihak mengatakan, bahwa kerangka kerja tersebut tidak akan efektif dalam menyelesaikan konflik. Namun, banyak juga pihak yang menilai ini sebagai sebuah kemajuan.

Baca Juga: Jika Filipina Ngotot, Beijing Ancam Perang di Laut China Selatan

Sebagaimana diketahui, Negeri Tirai Bambu mengklaim nyaris seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai wilayahnya sendiri dengan alasan hak sejarah. Hal ini kemudian memicu konflik dengan beberapa negara lainnya seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan yang juga mengklaim wilayah Laut China Selatan.

(rav)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini