100 Ton Ikan Mati di Keramba Jaring Apung Danau Maninjau

Rus Akbar, Okezone · Senin 04 Desember 2017 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 04 340 1824820 100-ton-ikan-mati-di-keramba-jaring-apung-danau-maninjau-1ql3mcFL3s.jpg Ikan Nila Mati di Keramba Jaring Apung Danau Maninjau (foto: Rus Akbar/Okezone)

AGAM - Sejak 5 hari lalu sampai hari ini sudah 100 ton ikan nila mati di Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Matinya ikan di Danau Maninjau akibat banyak pencemaran yang terjadi di dasar danau tersebut.

“Seluruh keramba ikan di danau ini ikannya mati, ada 18 ribu keramba, padahal kita sudah meminta kepada masyarakat dan pengusaha ikan untuk berhenti sementara, sampai benar-benar air di danau Maninjau ini bersih,” kata Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Agam, Hemanto kepada Okezone, Senin (4/12/2017).

(foto: Rus Akbar/Okezone)

(Baca Juga: Waduh, Ratusan Ikan Mati Mendadak di Rawa Pulau Baai)

Penyebab matinya ikan ini karena isi Danau Maninjau sudah banyak tercemar mulai dari limbah rumah tangga, pertanian, pakan ikan, ikan mati sebelumnya dibiarkan mengendap ke dasar danau.

“Pengusaha ikan membiarkan ikan mati di dalam danau sehingga mengendap ikan di dasar danau, hingga saat ini dasar danau itu seperti kapur putih, kalau sudah terjadi perubahan cuaca dasar danau itu balik ke atas dan itu membuat ikan mati,” katanya.

Kata Hermanto sebenarnya pemilik keramba jaring apung ini bukan masyarakat tapi para cukong pakan ikan yang membuka usaha tersebut, sedangkan masyarakat setempat hanya sebagai pekerja saja.

(foto: Rus Akbar/Okezone)

“Seharusnya masalah ini yang bertanggungjawab adalah para pengusaha ikan tapi itu tidak terjadi, kita sudah berkali-kali melakukan soasialisasi namun itu akan terus dilakukan terus secara bertahap,” paparnya.

(Baca Juga: 10 Ton Ikan Mati di Danau Maninjau, Warga Merugi Ratusan Juta)

Saat ini upaya yang dilakukan baru memantau sambil melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, apakah ikan ini dibersihkan atau tidak tinggal koordinasi. Menurut Hermanto untuk betul-betul bersih dasar danau itu harus berhenti sementara pengelola ikan di danau itu.

“Kalau secara normalnya selama 20 tahun baru itu bersih tapi kalau mau cepat danaunya harus di sedot benar-benar kering sehingga isi danau itu bisa dibersihkan selama satu sampai dua tahun,” tegasnya.

Sementara jika 100 ton ikan yang mati itu dikalikan harga per 1 kilogram ikan nila berarti total kerugian yang dialami pengusaha KJA itu mencapai Rp2,8 miliar.

(foto: Rus Akbar/Okezone)

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini